http://voa-islam.com/counter/christology/2011/02/21/13434/ahmadiyah-kristen-bukan-islam-pun-tidak/
Ahmadiyah: Kristen Bukan, Islam pun Tidak!!
POLEMIK yang paling tajam dan mendasar antara Islam, Kristen dan Ahmadiyah adalah perbedaan teologi mengenai doktrin penyaliban Yesus di tiang salib.
Secara tegas, Islam mengajarkan bahwa Nabi Isa tidak mati dibunuh maupun disalib dalam Al-Qur’an surat An-Nisa 157: “wamaa qataluuhu wama shalabuuhu walakin syubbiha lahum” (mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang lain yang diserupakan dengan Isa bagi mereka).
Para ulama dan mufassir sejak masa permulaan Islam sampai saat ini sepakat (ijma’) bahwa satu-satunya maksud ayat ini adalah membantah dugaan pembunuhan dan penyaliban Nabi Isa AS. Orang-orang Yahudi dan Romawi gagal menangkap Nabi Isa, apalagi membunuh dan menyalibnya, karena beliau diselamatkan Allah SWT. Penafsiran ini diperkuat dengan ujung surat An-Nisa’ 157:
“Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.”
Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan fakta yang sebenarnya bahwa Nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib. Al-Qur'an menepis peristiwa pembunuhan dan penyaliban Nabi Isa, tapi Al-Qur'an mengonfirmasi terjadinya pembunuhan dan penyaliban pada diri orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa.
....Berbeda dengan Islam dan Kristen, doktrin Ahmadiyah mengoplos akidah Islam dan Kristen. Mereka meyakini bahwa Nabi Isa benar-benar disalib, tapi tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja....
Dengan pemahaman demikian, maka Prof Dr H Mahmud Yunus dalam Tafsir Al-Qur’anul Karim menerjemahkan ayat tersebut, “Sebenarnya Isa itu bukan mereka bunuh atau mereka salibkan, tetapi yang mereka salib itu, adalah orang yang serupa dengan Isa, yang telah dibuat samar” (hlm. 94).
Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyatakan, “Syubbiha artinya disamarkan. Yaitu diadakan orang lain, lalu ditimbulkan sangka dalam hati orang yang hendak membunuh itu bahwa orang lain itulah Isa” (Juz 6 hlm. 21).
Bagaimana mungkin Nabi Isa AS terbunuh atau tersalib, padahal Allah SWT melindungi para rasul Ulul Azmi semuanya? Allah telah menyelamatkan Nabi Nuh dari tenggelam, Nabi Ibrahim dari Api, Nabi Musa dari Fir’aun, Nabi Isa dari Yahudi dan Nabi Muhammad dari makar kaum musyrikin.
Berbeda dengan Islam yang menolak mentah-mentah mitos penyaliban Yesus, umat Kristen justru menekankan doktrin penyaliban Yesus untuk menebus dosa manusia. Kematian Yesus di tiang salib harus diimani secara mutlak, sebagai satu-satunya syarat keselamatan kristiani. Tanpa mengimani penyaliban Yesus, batallah iman kristiani seseorang. Karena dalam 12 Pengakuan (Credo/Syahadat) Iman Rasuli, penyaliban Yesus termasuk dalam pengakuan keempat: “Yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut.”
Paulus dalam Bibel membuat rumusan bahwa dengan kematian di tiang salib, Yesus berkorban untuk menyelamatkan dosa manusia, agar umatnya beroleh pengampunan dan hidup yang kekal.
“Ia (Yesus, pen.) sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib…” (I Petrus 2:24).
“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita…” (I Petrus 3:18).
“…Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).
Meski penyaliban adalah inti dogma kristiani, uniknya kronologis kisah penyaliban dalam Bibel sangat simpang siur dan penuh kontradiktif.
Mengenai waktu penyaliban misalnya, Injil Markus 15:25 menyatakan bahwa Yesus disalib pada jam 9. Sementara Injil Yohanes 19:14 menceritakan bahwa pada jam 12 Yesus belum disalib, karena baru persiapan paskah. Sementara Injil Matius dan Lukas tidak menjelaskan jam berapa Yesus disalibkan. Jika sosok Yesus yang diyakini sebagai penebus dosa itu hanya ada satu orang, mengapa Bibel melaporkan dua kali waktu penyaliban? Jika Injil Markus dan Injil Yohanes diyakini kebenarannya, mungkinkah Yesus disalib dua kali pada waktu yang berlainan?
Doktrin Oplosan Al-Qur'an & Bibel Buatan Ahmadiyah
Berbeda dengan Islam dan Kristen, konsep akidah Ahmadiyah tentang Nabi Isa mengoplos akidah Islam dan doktrin Kristen. Mereka meyakini bahwa Nabi Isa benar-benar disalib, tapi tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja.
Mirza Ghulam Ahmad, pendiri dan nabi kaum Ahmadi, menekankan bahwa Nabi Isa benar-benar ditangkap, disiksa dan disalibkan tapi tidak sampai mati. Menurut nabi palsu ini, Nabi Isa disalib hanya sampai pingsan saja, lalu melarikan diri ke kampung Ahmadiyah di Kashmir dan meninggal di sana. Hal ini dijelaskan Syafi R Batuah, Sekretaris Tabligh PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia berikut:
“Salah satu ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ialah yang beliau jelaskan dalam buku bahasa Urdu berjudul “Masih Hindustan Men” (Almasih di India). Dalam buku itu, beliau menjelaskan bahwa Nabi Isa AS tidak meninggal di atas salib tapi hanya pingsan. Setelah siuman kembali beliau meninggalkan Palestina dan menuju daerah-daerah sebelah timur untuk menyampaikan ajaran-ajaran beliau kepada suku-suku Israil yang hilang. Akhirnya beliau tiba di Kashmir dan meninggal di sana dalam umur 120 tahun. Untuk menguatkan pendirian itu, Hazrat Imam Mahdi memberikan dalil-dalil yang diambil dari Bibel dan kitab-kitab tarikh” (Syafi R Batuah, Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir, 1970, hlm. 5).
Nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad merumuskan doktrin bahwa Nabi Isa disalib hingga pingsan tapi tidak sampai mati. Dalam keadaan pingsan, jasad Nabi Isa diselamatkan oleh para muridnya kemudian hidup wajar lalu hijrah, meninggal dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir.
....Nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad merumuskan doktrin bahwa Nabi Isa disalib hingga pingsan, kemudian hidup wajar lalu hijrah, meninggal dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir.
Untuk menyesuaikan ajaran Al-Qur'an dengan akidah warisan Mirza Ghulam Ahmad tersebut, para ulama Ahmadiyah merekayasa tafsir Al-Qur'an yang menyelelisihi penafsiran para ulama dan mufassir yang mu’tabar. Misalnya, Maulana Muhammad Ali dalam kitab tafsirnya yang menjadi rujukan Jemaat Ahmadiyah, mengomentari An-Nisa’ 157 sebagai berikut:
“Kalimat ‘ma-shalabuhu’ ini tak sekali-sekali mendustakan disalibnya Nabi Isa pada kayu palang; kalimat ini hanya mendustakan wafatnya Nabi Isa pada kayu palang sebagai akibat penyaliban…” (The Holy Qur’an Arabic Text, English Translation and Commentary, edisi Indonesia: Qur’an Suci Teks Arab, Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta, cet. X, 2002, hlm. 259).
Penafsiran model baru ini belum pernah dilakukan oleh para ulama dan mufassir baik di kalangan salafus shalih maupun ulama kontemporer.
Penyimpangan terhadap terjemahan Al-Qur'an yang lebih mencolok dilakukan oleh Syafi R Batuah dalam buku Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir. Dengan lancangnya, ia menerjemahkan ayat “wamaa qataluuhu wama shalabuuhu walakin syubbiha lahum” dalam surat An-Nisa’ 157 sbb:
“…Tidaklah mereka membunuhnya (sampai mati) dan tidak pula mereka menyalibnya (sampai mati), melainkan disamarkan (keadaannya itu) kepada mereka…” (hlm 8).
Penafsiran versi kaum Ahmadi ini terdapat tahrif (insersi/penyisipan). Nas ayatnya jelas berbunyi “wamaa qataluuhu” (tidak membunuhnya) dan “wama shalabuhu” (tidak menyalibnya) tanpa ada embel-embel kata apapun. Penambahan kata “sampai mati” ini di ambil darimana kalau bukan tahrif untuk mencocokkan penafsiran Al-Qur'an dengan doktrin nabi palsu mereka? Bukankah dalam nas Al-Qur'an tidak ada embel-embel “hatta yamuta” (sampai mati)?
Penerjemahan batil yang dilakukan oleh kaum Ahmadi ini menyelisihi para penerjemah dan penafsir yang mu’tabar di Indonesia, antara lain: Prof Dr Buya Hamka (Tafsir Al-Azhar), Tim Departemen Agama RI (Al-Qur'an dan Terjemanya), Prof TM Hasbi Ash-Shiddieqy (Tafsir Al-Bayan), A Hassan (Tafsir Al-Furqan), Prof Dr H Mahmud Yunus (Tafsir Qur’an Karim), Bachtiar Surin (Tafir Adz-Dzikra), H Oemar Bakri (Tafsir Rahmat), Tim Disbintalad: Drs HA Nazri Adlany, Drs H Hanafie Tamam dan Drs HA Faruq Nasution (Al-Qur'an Terjemah Indonesia), dan lain-lain.
Kehadiran Ahmadiyah dengan doktrin semi Islam-Kristen, tidaklah menjadi penengah atas polemik Islam dan Kristen, justru melahirkan akidah aneh hasil oplosan Al-Qur'an dan Bibel yang diaduk dengan kitab-kitab sejarah. Tentunya, dengan melahirkan polemik teologis baru pula.
....Ahmadiyah dengan doktrin semi Islam-Kristen, justru melahirkan akidah aneh hasil oplosan Al-Qur'an dan Bibel yang diaduk dengan kitab-kitab sejarah.Penafsiran Al-Qur'an versi kaum Ahmadi memperkeruh kontroversi teologis ....
Penafsiran Al-Qur'an versi kaum Ahmadi ini memperkeruh kontroversi teologis, baik dengan Islam maupun Kristen. Selain itu, penerjemahan An-Nisa’ 157 versi Ahmadi ini tergolong gharib (aneh).
Dengan keyakinan baru bahwa Nabi Isa menderita penyaliban tapi tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja, sepintas Ahmadiyah sesuai dengan doktrin Kristen. Di sisi lain, keyakinan bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib, sekilas mirip akidah Islam. Ahmadiyah dengan Islam dan Kristen, nyaris serupa tapi tak sama: Lebih tepatnya dengan dalil dalil-dalil Al-Qur'an yang dioplos dengan Bibel dan buku sejarah, lahirlah doktrin “Krislam” Ahmadiyah yang aneh: Kristen bukan, Islam pun tidak!! [A. Ahmad Hizbullah MAG/suara-islam]
Sabtu, 12 Maret 2011
Rabu, 12 Mei 2010
Agama Kristen Di Inggris Terus Memudar
LONDON (Suaramedia) Sebuah laporan yang dipublikasikan surat kabar bertiras besar diInggris menyiratkan semakin bertambahnya tekanan terhadap para pemimpin gereja-gereja besar di negeri itu akibat terkuaknya sejumlah skandal seksual yang dilakukan para pendeta terhadap anak-anak dan biarawati.
Minimnya kehadiran jemaah misa dan sikap menghindar dari agama Nasrani, khususnya di kalangan pemuda serta inkonsistensi terhadap prinsip-prinsip dasar kristen di mana diizinkannya para tokoh agama penyimpang prilaku seksual beraktifitas dan dilegalkannya perkawinan sejenis.
Kondisi itu tampak jelas dalam statement yang dikeluarkan paus VATIKAN saat berkunjung ke Austria. Kala itu,
sang paus mengimbau kepada rakyat eropa, “Sesungguhnya masa depan Kristen sangat menyedihkan dan berada dalam bahaya, khususnya bila kalian sudah tidak mau melahirkan anak lagi dan tidak menegakkan syariat Tuhan.” Ia juga mengingatkan semakin mengikisnya identitas kristen dalam kondisi saat ini di mana angka kelahiran menurun sementara populasi kaum imigran Muslim terus bertambah.
Jumlah pengunjung misa mingguan gereja dari berbagai sekte di Inggris akan terus merosot hingga mencapai angka kurang dari 1900.000 orang. Sementara 4000 gereja menjelang tahun 2020 terancam ditutup bila intensitas penutupan seperti saat ini terus berlanjut.
Penutupan Gereja
Sebuah kajian yang dipublikasikan surat kabar ‘The Sunday Telegraph’ yang terbit di Inggris mengatakan, diprediksi jumlah gereja di Inggris akan merosot drastis menjelang tahun 2030, dari 48.000 gereja menjadi 39.000 gereja. Ini artinya setara seperlima jumlah gereja di Inggris. Demikian seperti yang dilansir majalah Islam terbesar di timur tengah “El Mujtamaa” yang terbit di Kuwait.
Kajian itu juga menyiratkan ditutupnya dua gereja setiap pekannya.
Skandal Seksual
Sementara itu, VATIKAN telah membayar ganti rugi sebesar 2 milyar dolar kepada keluar korban pelecehan seksual anak-anak di Amerika yang dilakukan para pendeta di dalam gereja.
Sebuah laporan yang bersumber dari VATIKAN menyingkap, banyak oknum pendeta dan uskup gereja-gereja Katholik yang menyalahgunakan kekuasaan keagamaannya dan melakukan kekerasan seksual terhadap para biarawati hingga memperkosa dan memaksa mereka untuk aborsi atau mengonsumsi pil anti hamil. Laporan itu juga menyiratkan, terungkapnya sejumlah kasus pelecehan di 23 negara, seperti Amerika, Brazil, Filipina, India, Irlandia dan Italia, bahkan di dalam VATIKAN sendiri serta sejumlah besar negara-negara di benua Afrika.
Keputusasaan nampaknya tengah mendera batin para pemimpin gereja di Inggris. Kardinal Cormac O'Connor, uskup senior gereja Westminster yang juga pemimpin umat Katholik Inggris sebelumnya telah menyatakan dalam seminar para pendeta di kota Leeds, “Sesungguhnya kristen di sini telah mendekati penghabisannya dan hampir dikalahkan. Sejumlah prilaku yang muncul di zaman modern ini, ataupun sejumlah keyakinan yang bukan berasal dari ajaran klasik kristen saat ini telah menguasai para pemuda dan menggantikan posisi kristen di hati mereka serta mempecundangi mereka.” (AS)
Minimnya kehadiran jemaah misa dan sikap menghindar dari agama Nasrani, khususnya di kalangan pemuda serta inkonsistensi terhadap prinsip-prinsip dasar kristen di mana diizinkannya para tokoh agama penyimpang prilaku seksual beraktifitas dan dilegalkannya perkawinan sejenis.
Kondisi itu tampak jelas dalam statement yang dikeluarkan paus VATIKAN saat berkunjung ke Austria. Kala itu,
sang paus mengimbau kepada rakyat eropa, “Sesungguhnya masa depan Kristen sangat menyedihkan dan berada dalam bahaya, khususnya bila kalian sudah tidak mau melahirkan anak lagi dan tidak menegakkan syariat Tuhan.” Ia juga mengingatkan semakin mengikisnya identitas kristen dalam kondisi saat ini di mana angka kelahiran menurun sementara populasi kaum imigran Muslim terus bertambah.
Jumlah pengunjung misa mingguan gereja dari berbagai sekte di Inggris akan terus merosot hingga mencapai angka kurang dari 1900.000 orang. Sementara 4000 gereja menjelang tahun 2020 terancam ditutup bila intensitas penutupan seperti saat ini terus berlanjut.
Penutupan Gereja
Sebuah kajian yang dipublikasikan surat kabar ‘The Sunday Telegraph’ yang terbit di Inggris mengatakan, diprediksi jumlah gereja di Inggris akan merosot drastis menjelang tahun 2030, dari 48.000 gereja menjadi 39.000 gereja. Ini artinya setara seperlima jumlah gereja di Inggris. Demikian seperti yang dilansir majalah Islam terbesar di timur tengah “El Mujtamaa” yang terbit di Kuwait.
Kajian itu juga menyiratkan ditutupnya dua gereja setiap pekannya.
Skandal Seksual
Sementara itu, VATIKAN telah membayar ganti rugi sebesar 2 milyar dolar kepada keluar korban pelecehan seksual anak-anak di Amerika yang dilakukan para pendeta di dalam gereja.
Sebuah laporan yang bersumber dari VATIKAN menyingkap, banyak oknum pendeta dan uskup gereja-gereja Katholik yang menyalahgunakan kekuasaan keagamaannya dan melakukan kekerasan seksual terhadap para biarawati hingga memperkosa dan memaksa mereka untuk aborsi atau mengonsumsi pil anti hamil. Laporan itu juga menyiratkan, terungkapnya sejumlah kasus pelecehan di 23 negara, seperti Amerika, Brazil, Filipina, India, Irlandia dan Italia, bahkan di dalam VATIKAN sendiri serta sejumlah besar negara-negara di benua Afrika.
Keputusasaan nampaknya tengah mendera batin para pemimpin gereja di Inggris. Kardinal Cormac O'Connor, uskup senior gereja Westminster yang juga pemimpin umat Katholik Inggris sebelumnya telah menyatakan dalam seminar para pendeta di kota Leeds, “Sesungguhnya kristen di sini telah mendekati penghabisannya dan hampir dikalahkan. Sejumlah prilaku yang muncul di zaman modern ini, ataupun sejumlah keyakinan yang bukan berasal dari ajaran klasik kristen saat ini telah menguasai para pemuda dan menggantikan posisi kristen di hati mereka serta mempecundangi mereka.” (AS)
Perpustakaan Elit Tak Kalah dengan Hotel Bintang Lima
Pernah nggak kamu memasuki sebuah ruangan yang awalnya kamu kira salah satu kamar hotel bintang lima tapi ternyata perpustakaan? Wah….mimpi kali yee kalo sampai ada ruangan seindah itu. Ruang perpustakaan umumnya kan membosankan, penuh dengan buku-buku berdebu, kursi-kursi tua yang reyot, pengunjung dan penjaganya pun sama-sama bermuka masam.
Perpustakaan yang ini beda. Selain dilengkapi taman, pemandian dan ruang rekreasi, perpustakaan ini juga dilengkapi cafeteria dan tempat menginap. Bukan itu saja, para penuntut ilmu yang datang dari seluruh penjuru negeri dan luar negeri juga mendapat uang saku. Jadi tak perlu jauh-jauh keluar dari ruangan apabila perut merasa lapar, badan kegerahan atau tubuh yang butuh istirahat. Bahkan ada pelayan juga yang siap melayani kebutuhan para penuntut ilmu. Semuanya ‘one stop shopping’ dalam satu lokasi. Hebatnya lagi, semua fasilitas tersebut di atas tanpa dipungut biaya alias gratis.
Mungkin sebagian dari kamu menganggap semua ini hanya khayalan saja. Tapi ini bukan sekadar angan-angan atau mimpi semata. Semua ini tercatat indah dalam tinta sejarah yang seringkali disembunyikan oleh pihak-pihak yang tak menginginkan masa keemasan ini kembali lagi. Ya…masa kegemilangan ini ada pada sistem Islam bernama Khilafah ketika mencapai puncak kejayaannya. Perpustakaan baik milik pemerintah maupun swasta tak ada bedanya, semua saling berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi penuntut ilmu.
Di sebuah daerah bernama Karkar dekat kota Baghdad terdapat sebuah istana yang megah dan indah sekali milik Ali bin Yahya bin al-Munajjim. Istana itu memiliki lemari besar yang dinamakan “Khizanatul Hikmat” (almari hikmah) untuk menyimpan kitab-kitab. Siapa pun yang datang untuk menimba ilmu di perpustakaan tersebut, bukannya ditarik bayaran tapi malah diberi bayaran. Orang tak perlu pusing memikirkan biaya mahalnya menuntut ilmu. Itu hanya satu milik swasta atau individu di antara sekian banyak perpustakaan lainnya.
Uniknya, sebuah perpustakaan biasanya berfungsi sebagaimana layaknya universitas karena di tempat itu terjadi yang namanya diskusi dan dialog. Jadi aktivitas yang ada bukan cuma membaca dan mencatat saja, tapi juga menulis dan menghasilkan karya. Hebatnya lagi, bukan cuma masalah akidah dan fiqih yang dibahas tapi juga masalah ilmu pengetahuan lainnya dan juga sastra. Saat itu tidak dikenal yang namanya sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Jadi semua orang cinta belajar Islam sebagaimana mereka juga senang belajar ilmu pengetahuan semisal astronomi, matematika, fisika, kedokteran, dan lain-lain.
Karena tak ada penyakit sekulerisme inilah, setiap orang selalu merasa diawasi oleh Allah langsung. Hal ini meminimalkan kecurangan sehingga sebuah perpustakaan tak segan meminjamkan koleksi-koleksi bukunya yang berharga sampai 200 buku untuk dibawa pulang ke rumah tanpa jaminan apa pun! Bandingkan dengan zaman sekarang yang hanya untuk meminjam satu buku saja maka harus meninggalkan KTP dan sejumlah uang sebagai jaminan.
…Perpustakaan ini dilengkapi taman, pemandian, ruang rekreasi, cafeteria dan tempat menginap. Bahkan para penuntut ilmu yang datang dari seluruh penjuru negeri dan luar negeri juga mendapat uang saku…
Satu hal yang harus ditiru oleh banyak perpustakaan yang mengaku dirinya hebat saat ini adalah dekatnya banguan masjid bahkan menjadi satu dengan perpustakaan. Sehingga tidak ada ceritanya orang keasyikan membaca buku sampai lupa shalat atau beralasan tidak mendengar azan. Apa pun aktivitasnya, semua dihentikan bila adzan berkumandang dan siap-siap menunaikan shalat.
Bercermin dari hal di atas, masa sih kita tidak rindu memiliki perpustakaan serupa itu? Kepedulian terhadap kondisi perpustakaan adalah cermin sebuah bangsa, seberapa besar tekadnya dalam menghargai ilmu pengetahuan. Dan sungguh, tak ada peradaban mana pun yang melebihi Islam dalam menjunjung tinggi ilmu pengetahuan serta orang-orang yang menuntut ilmu. Wallahu ‘alam.
Perpustakaan yang ini beda. Selain dilengkapi taman, pemandian dan ruang rekreasi, perpustakaan ini juga dilengkapi cafeteria dan tempat menginap. Bukan itu saja, para penuntut ilmu yang datang dari seluruh penjuru negeri dan luar negeri juga mendapat uang saku. Jadi tak perlu jauh-jauh keluar dari ruangan apabila perut merasa lapar, badan kegerahan atau tubuh yang butuh istirahat. Bahkan ada pelayan juga yang siap melayani kebutuhan para penuntut ilmu. Semuanya ‘one stop shopping’ dalam satu lokasi. Hebatnya lagi, semua fasilitas tersebut di atas tanpa dipungut biaya alias gratis.
Mungkin sebagian dari kamu menganggap semua ini hanya khayalan saja. Tapi ini bukan sekadar angan-angan atau mimpi semata. Semua ini tercatat indah dalam tinta sejarah yang seringkali disembunyikan oleh pihak-pihak yang tak menginginkan masa keemasan ini kembali lagi. Ya…masa kegemilangan ini ada pada sistem Islam bernama Khilafah ketika mencapai puncak kejayaannya. Perpustakaan baik milik pemerintah maupun swasta tak ada bedanya, semua saling berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi penuntut ilmu.
Di sebuah daerah bernama Karkar dekat kota Baghdad terdapat sebuah istana yang megah dan indah sekali milik Ali bin Yahya bin al-Munajjim. Istana itu memiliki lemari besar yang dinamakan “Khizanatul Hikmat” (almari hikmah) untuk menyimpan kitab-kitab. Siapa pun yang datang untuk menimba ilmu di perpustakaan tersebut, bukannya ditarik bayaran tapi malah diberi bayaran. Orang tak perlu pusing memikirkan biaya mahalnya menuntut ilmu. Itu hanya satu milik swasta atau individu di antara sekian banyak perpustakaan lainnya.
Uniknya, sebuah perpustakaan biasanya berfungsi sebagaimana layaknya universitas karena di tempat itu terjadi yang namanya diskusi dan dialog. Jadi aktivitas yang ada bukan cuma membaca dan mencatat saja, tapi juga menulis dan menghasilkan karya. Hebatnya lagi, bukan cuma masalah akidah dan fiqih yang dibahas tapi juga masalah ilmu pengetahuan lainnya dan juga sastra. Saat itu tidak dikenal yang namanya sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Jadi semua orang cinta belajar Islam sebagaimana mereka juga senang belajar ilmu pengetahuan semisal astronomi, matematika, fisika, kedokteran, dan lain-lain.
Karena tak ada penyakit sekulerisme inilah, setiap orang selalu merasa diawasi oleh Allah langsung. Hal ini meminimalkan kecurangan sehingga sebuah perpustakaan tak segan meminjamkan koleksi-koleksi bukunya yang berharga sampai 200 buku untuk dibawa pulang ke rumah tanpa jaminan apa pun! Bandingkan dengan zaman sekarang yang hanya untuk meminjam satu buku saja maka harus meninggalkan KTP dan sejumlah uang sebagai jaminan.
…Perpustakaan ini dilengkapi taman, pemandian, ruang rekreasi, cafeteria dan tempat menginap. Bahkan para penuntut ilmu yang datang dari seluruh penjuru negeri dan luar negeri juga mendapat uang saku…
Satu hal yang harus ditiru oleh banyak perpustakaan yang mengaku dirinya hebat saat ini adalah dekatnya banguan masjid bahkan menjadi satu dengan perpustakaan. Sehingga tidak ada ceritanya orang keasyikan membaca buku sampai lupa shalat atau beralasan tidak mendengar azan. Apa pun aktivitasnya, semua dihentikan bila adzan berkumandang dan siap-siap menunaikan shalat.
Bercermin dari hal di atas, masa sih kita tidak rindu memiliki perpustakaan serupa itu? Kepedulian terhadap kondisi perpustakaan adalah cermin sebuah bangsa, seberapa besar tekadnya dalam menghargai ilmu pengetahuan. Dan sungguh, tak ada peradaban mana pun yang melebihi Islam dalam menjunjung tinggi ilmu pengetahuan serta orang-orang yang menuntut ilmu. Wallahu ‘alam.
Selasa, 28 Juli 2009
Israel Dikutuk, Paus Meninggalkan Pertemuan
Israel Dikutuk, Paus Meninggalkan Pertemuan
Selasa, 12/05/2009 10:40 WIB
Seorang ulama terkemuka Palestina, yang diundang menghadhiri dialog antar umat beragama bersama dengan Paus Benedict XVI, dan dalam pertemuan itu, ulama Palestina mengutuk Israel, dan menyatakan Israel sebagai, ‘Pembunuh anak-anak Gaza’, ‘Membolduzer rumah-rumah penduduk Palestinia’, dan ‘Menghancurkan masjid-masjid’, dan saat mendengar pernyataan ulama Palestina itu, Paus langsung meninggalkan pertemuan. Ini menggambarkan, bahwa Paus sudah menjadi pembela dan pelindung Israel.
Dalam pernyataannya Sheikh Taysir Tamimi, ketika menghadiri dialog dengan Paus di Notre Dame Institute di Jerusalem, tak segan-segan Sheikh Tamimi, secara terang-terangan di hadapan pemimpin tertinggi umat Katolik itu, Paus Benedict XVI, menyerang Israel, menurut Sheikh Tamimi, bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang di Gaza, merampas tanah rakyat Palestina, dan mengusir rakyat yang tidak berdosa di Tepi Barat. Pidato Sheikh Tamimi, yang berlangsung kurang lebih 10 menit itu, menyebabkan Paus tidak tahan mendengarkannya, lalu meninggalkan dialog.
Sheikh Tamimi memimpin sebagai ‘qadhi (hakim) di dalam pemerintahan Otoritas Palestina, di dalam pertemuan itu, menyerukan agar dikembalikan hak para pengungsi untuk kembali ke tanah air mereka, dan golongan Islam dan Kristen bersatu untuk menghadapi Zionis-Israel. Ulama Palestina itu, tak lupa, menyebutkan seorang tokoh yang sudah membebaskan Jerusalem, Shalahuddin al-Ayyubi dari pasukan Salib Eropa, di tahun 1187, dan menjadikan kota Jerusalem, sebagai tempat bagi semua pemeluk agama, kecuali Zionis-Israel.
Lucunya, sebelum meninggalkan dialog itu, Paus mengulurkan tangannya kepada Sheikh Tamimi, yang kemudian Paus meninggalkan pertemuan, sebelum pertemuan itu usai. Paus sendiri berbicara sebelum Sheik Tamimi. Padahal, dialog antar pemeluk agama itu, sangat penting, Paus ‘hatinya’ sudah tertambat kepada Israel. Meskipun, menurut berita yang ada di Jerusalem Post itu, Paus tidak dapat mengerti apa yang disampaikan Sheikh Tamimi, karena menggunakan bahasa Arab.
“Kami berharap dialog antar para pemeluk agama ini tidak rusak, karena adanya kesalahpahaman ini”, ujar Uskup Federigo Lombardi, yang menjadi juru bicara Paus. Sementara itu, Kepala Rabbi Israel, Shear Yashuv Cohen, menyatakan, bahwa kunjungan Paus ke Israel mempunyai missi perdamaian dan persaudaraan, sedangkan pesan yang disampaikan Sheikh Tamimi adalah perang”, ujar Rabbi Cohen.
Tak pelak lagi, kunjungan Paus Benedicth XVI, ke Israel, sama halnya dengan melegalisasi semua tindakan kejahatan Israel, yang kejam dan biadab serta barbar terhadap rakyat Palestina.
Tidak ada sedikitpun, pernyataan yang dikeluarkan dari Paus yang mengkritik atas segala tindakan kekejaman yang dilakukan oleh rezim Zionis-Israel, selama berpuluh tahun, termasuk agresi militer yang dilakukan Israel ke Gaza, belum lama, yang menyebabkan kehancuran wilayah itu, serta banyak korban orang-orang Palestina, yang tidak berdosa. Dan, Paus berdiam seribu bahasa, ketika bertemu dengan semua pemimpin Zionis-Israel.
Apakah ini yang dikatakan Paus sebagai pemipin umat, yang penuh dengan kasih dan perdamaian. Tapi, membiarkan kejahatan di depan mata, yang dilakukan Zionis-Israel. (m/jp)
http://eramuslim.com/berita/dunia/israel-dikutuk-paus-meninggalkan-pertemuan.htm
Selasa, 12/05/2009 10:40 WIB
Seorang ulama terkemuka Palestina, yang diundang menghadhiri dialog antar umat beragama bersama dengan Paus Benedict XVI, dan dalam pertemuan itu, ulama Palestina mengutuk Israel, dan menyatakan Israel sebagai, ‘Pembunuh anak-anak Gaza’, ‘Membolduzer rumah-rumah penduduk Palestinia’, dan ‘Menghancurkan masjid-masjid’, dan saat mendengar pernyataan ulama Palestina itu, Paus langsung meninggalkan pertemuan. Ini menggambarkan, bahwa Paus sudah menjadi pembela dan pelindung Israel.
Dalam pernyataannya Sheikh Taysir Tamimi, ketika menghadiri dialog dengan Paus di Notre Dame Institute di Jerusalem, tak segan-segan Sheikh Tamimi, secara terang-terangan di hadapan pemimpin tertinggi umat Katolik itu, Paus Benedict XVI, menyerang Israel, menurut Sheikh Tamimi, bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang di Gaza, merampas tanah rakyat Palestina, dan mengusir rakyat yang tidak berdosa di Tepi Barat. Pidato Sheikh Tamimi, yang berlangsung kurang lebih 10 menit itu, menyebabkan Paus tidak tahan mendengarkannya, lalu meninggalkan dialog.
Sheikh Tamimi memimpin sebagai ‘qadhi (hakim) di dalam pemerintahan Otoritas Palestina, di dalam pertemuan itu, menyerukan agar dikembalikan hak para pengungsi untuk kembali ke tanah air mereka, dan golongan Islam dan Kristen bersatu untuk menghadapi Zionis-Israel. Ulama Palestina itu, tak lupa, menyebutkan seorang tokoh yang sudah membebaskan Jerusalem, Shalahuddin al-Ayyubi dari pasukan Salib Eropa, di tahun 1187, dan menjadikan kota Jerusalem, sebagai tempat bagi semua pemeluk agama, kecuali Zionis-Israel.
Lucunya, sebelum meninggalkan dialog itu, Paus mengulurkan tangannya kepada Sheikh Tamimi, yang kemudian Paus meninggalkan pertemuan, sebelum pertemuan itu usai. Paus sendiri berbicara sebelum Sheik Tamimi. Padahal, dialog antar pemeluk agama itu, sangat penting, Paus ‘hatinya’ sudah tertambat kepada Israel. Meskipun, menurut berita yang ada di Jerusalem Post itu, Paus tidak dapat mengerti apa yang disampaikan Sheikh Tamimi, karena menggunakan bahasa Arab.
“Kami berharap dialog antar para pemeluk agama ini tidak rusak, karena adanya kesalahpahaman ini”, ujar Uskup Federigo Lombardi, yang menjadi juru bicara Paus. Sementara itu, Kepala Rabbi Israel, Shear Yashuv Cohen, menyatakan, bahwa kunjungan Paus ke Israel mempunyai missi perdamaian dan persaudaraan, sedangkan pesan yang disampaikan Sheikh Tamimi adalah perang”, ujar Rabbi Cohen.
Tak pelak lagi, kunjungan Paus Benedicth XVI, ke Israel, sama halnya dengan melegalisasi semua tindakan kejahatan Israel, yang kejam dan biadab serta barbar terhadap rakyat Palestina.
Tidak ada sedikitpun, pernyataan yang dikeluarkan dari Paus yang mengkritik atas segala tindakan kekejaman yang dilakukan oleh rezim Zionis-Israel, selama berpuluh tahun, termasuk agresi militer yang dilakukan Israel ke Gaza, belum lama, yang menyebabkan kehancuran wilayah itu, serta banyak korban orang-orang Palestina, yang tidak berdosa. Dan, Paus berdiam seribu bahasa, ketika bertemu dengan semua pemimpin Zionis-Israel.
Apakah ini yang dikatakan Paus sebagai pemipin umat, yang penuh dengan kasih dan perdamaian. Tapi, membiarkan kejahatan di depan mata, yang dilakukan Zionis-Israel. (m/jp)
http://eramuslim.com/berita/dunia/israel-dikutuk-paus-meninggalkan-pertemuan.htm
Rabu, 22 Juli 2009
Bom Naudzubillah & Si Cantik Salahiyah
Rabu, 22/07/2009 15:12 WIB
Bom Naudzubillah & Si Cantik Salahiyah
Djoko Suud Sukahar - detikNews
Jakarta - Bom meledak. Sembilan tewas, puluhan luka-luka. Korbannya
memang tidak sebanyak bom Bali. Bom JW Marriot & Ritz-Carlton Jakarta
itu juga tidak menimbulkan histeria massal. Itu karena kita mulai
‘terbiasa’ dengan ‘jebles jedur’ macam ini. Hanya yang tidak habis
pikir, alasan bom itu diledakkan.
Di Palestina pernah tercatat bomber yang mensejarah. Dia perempuan yang
sangat luar biasa. Selain alasan jihad, secara manusiawi ada
rasionalisasi terhadap tindakan harakiri itu. Perbuatan itu, sesadis dan
sebarbar apapun masih menyisakan respek. Tapi bom kali ini?
Nama perempuan istimewa itu adalah Salahiyah. Dia muslimah. Cantik dan
taat beribadah. Dia tinggal di kamp pengungsi di Jalur Gaza. Hidup
miskin dan tertekan tidak membuatnya menyerah. Dia lawan karena yakin
kehidupan indah ada di kehidupan berikutnya.
Anak-anaknya masih kecil. Mereka tidak kolokan. Itu karena sadar di kamp
bukan hanya mereka yang susah. Semua tetangga dan kaumnya juga sama.
Israel yang represif dan ‘berencana’ melakukan genosida membuat bangsa
Palestina harus terus-menerus terlilit bencana.
Salahiyah sangat tegar. Ketegarannya sudah sampai pada tahap nihilis.
Tidak beda hidup dan mati. Tidak berjarak duka atau bahagia. Hatinya
disemaikan taburan syukur. Dan was-was dianggapnya sebagai ujian menuju
kesabaran hakiki, sabar seperti yang dikehendaki Allah.
Salahiyah telah berubah menjadi batu cadas. Angin gurun sedahsyat apa
saja tidak mampu menggoyahnya. Itu akibat harmonisasi keluarga yang
terkoyak. Suami dan anak-anaknya yang kecil berantakan saat bom menyulap
tubuh suaminya jadi serpihan yang tidak bisa dikenali. Di usianya yang
masih muda Salahiyah menjadi janda dengan tiga balita dan tanpa
sanak-saudara.
Di musim kerontang, Salahiyah berjalan menuju wilayah Mesir. Menimba air
bagi anak-anak yang dahaga. Di tengah hujan bom, perempuan ini melintasi
kawasan tandus. Dan demi belahan jiwa dia melupakan nyawanya.
Kalau hari lagi sepi gempuran, sehabis salat subuh Salahiyah mengais
rejeki ke pasar. Jualan kurma, dan hasilnya ditukar dengan makanan buat
sang anak tercinta. Siklus itu rutin. Tanpa kelu dia banting tulang dan
membagi kasih sayang.
Waktu merangkak. Anak lelakinya sudah mulai bisa bermain. Mainan di
‘medan perang’ adalah melempari tentara Israel, memasang bom rakitan,
dan menyusup untuk meledakkan. Dari pagi hingga matahari surut anak-anak
itu menantang maut. Dan jika Isyak belum pulang, itu pertanda anak-anak
itu sudah menghadap Tuhan. Dia mati ditembak tentara.
Batin Salahiyah terpompa itu. Saban hari dan saban waktu. Sebagai ibu
dia tidak tega melihat anak-anaknya bergumul dengan bahaya. Tapi adakah
hanya anaknya yang menantang maut? Bagaimana dengan dirinya? Bagaimana
pula dengan kaumnya yang terus dihujani bom dan tembakan tanpa kenal
musim itu?
Ketika umur anaknya belasan tahun, tahapan lain harus dilalui. Mereka
siap menjadi martir. Memantapkan keimanan untuk menjadi ‘mesin perang’.
Maka saat purnama menerangi gurun dan sang anak yang beranjak remaja itu
bersimpuh, Salahiyah paham. Itu saatnya dia harus melepas buah hatinya
untuk menyumbangkan satu-satunya nyawa yang dia punya.
Sejak itu kabar Karim, anak lelakinya hanya sayup-sayup sampai.
Salahiyah cuma berdoa agar umur anaknya agak panjang. Namun itu hanya
harapan. Saat kamp dibombardir mortir, buah hati yang tersisa tergolek
tak bernyawa. Mereka mati di antara puing-puing reruntuhan. Peristiwa
tragis itu disusul berita kematian Karim yang meledakkan tubuhnya di pos
penjagaan Israel.
Salahiyah tidak menangis. Dia hanya menggigit bibirnya. Air bening
meleleh dari kelopak matanya. Dia kini sendiri. Suami, saudara, dan
anak-anaknya begitu cepat meninggalkan dunia ini. Terpaan itu membuatnya
bergabung dengan gerakan intifadah.
Salahiyah berubah menjadi macan betina. Bom demi bom diledakkan. Dia
ditakuti lawan dan disegani kawan. Salahiyah melakukan jihad fi
sabilillah, insyaallah, atau melampiaskan dendam tidak ada yang menyoal.
Setidaknya, hablum minannas dan hablum minallah terpenuhi. Tapi bom Mega
Kuningan? Naudzubillah hi mindzalik !
* Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)
Bom Naudzubillah & Si Cantik Salahiyah
Djoko Suud Sukahar - detikNews
Jakarta - Bom meledak. Sembilan tewas, puluhan luka-luka. Korbannya
memang tidak sebanyak bom Bali. Bom JW Marriot & Ritz-Carlton Jakarta
itu juga tidak menimbulkan histeria massal. Itu karena kita mulai
‘terbiasa’ dengan ‘jebles jedur’ macam ini. Hanya yang tidak habis
pikir, alasan bom itu diledakkan.
Di Palestina pernah tercatat bomber yang mensejarah. Dia perempuan yang
sangat luar biasa. Selain alasan jihad, secara manusiawi ada
rasionalisasi terhadap tindakan harakiri itu. Perbuatan itu, sesadis dan
sebarbar apapun masih menyisakan respek. Tapi bom kali ini?
Nama perempuan istimewa itu adalah Salahiyah. Dia muslimah. Cantik dan
taat beribadah. Dia tinggal di kamp pengungsi di Jalur Gaza. Hidup
miskin dan tertekan tidak membuatnya menyerah. Dia lawan karena yakin
kehidupan indah ada di kehidupan berikutnya.
Anak-anaknya masih kecil. Mereka tidak kolokan. Itu karena sadar di kamp
bukan hanya mereka yang susah. Semua tetangga dan kaumnya juga sama.
Israel yang represif dan ‘berencana’ melakukan genosida membuat bangsa
Palestina harus terus-menerus terlilit bencana.
Salahiyah sangat tegar. Ketegarannya sudah sampai pada tahap nihilis.
Tidak beda hidup dan mati. Tidak berjarak duka atau bahagia. Hatinya
disemaikan taburan syukur. Dan was-was dianggapnya sebagai ujian menuju
kesabaran hakiki, sabar seperti yang dikehendaki Allah.
Salahiyah telah berubah menjadi batu cadas. Angin gurun sedahsyat apa
saja tidak mampu menggoyahnya. Itu akibat harmonisasi keluarga yang
terkoyak. Suami dan anak-anaknya yang kecil berantakan saat bom menyulap
tubuh suaminya jadi serpihan yang tidak bisa dikenali. Di usianya yang
masih muda Salahiyah menjadi janda dengan tiga balita dan tanpa
sanak-saudara.
Di musim kerontang, Salahiyah berjalan menuju wilayah Mesir. Menimba air
bagi anak-anak yang dahaga. Di tengah hujan bom, perempuan ini melintasi
kawasan tandus. Dan demi belahan jiwa dia melupakan nyawanya.
Kalau hari lagi sepi gempuran, sehabis salat subuh Salahiyah mengais
rejeki ke pasar. Jualan kurma, dan hasilnya ditukar dengan makanan buat
sang anak tercinta. Siklus itu rutin. Tanpa kelu dia banting tulang dan
membagi kasih sayang.
Waktu merangkak. Anak lelakinya sudah mulai bisa bermain. Mainan di
‘medan perang’ adalah melempari tentara Israel, memasang bom rakitan,
dan menyusup untuk meledakkan. Dari pagi hingga matahari surut anak-anak
itu menantang maut. Dan jika Isyak belum pulang, itu pertanda anak-anak
itu sudah menghadap Tuhan. Dia mati ditembak tentara.
Batin Salahiyah terpompa itu. Saban hari dan saban waktu. Sebagai ibu
dia tidak tega melihat anak-anaknya bergumul dengan bahaya. Tapi adakah
hanya anaknya yang menantang maut? Bagaimana dengan dirinya? Bagaimana
pula dengan kaumnya yang terus dihujani bom dan tembakan tanpa kenal
musim itu?
Ketika umur anaknya belasan tahun, tahapan lain harus dilalui. Mereka
siap menjadi martir. Memantapkan keimanan untuk menjadi ‘mesin perang’.
Maka saat purnama menerangi gurun dan sang anak yang beranjak remaja itu
bersimpuh, Salahiyah paham. Itu saatnya dia harus melepas buah hatinya
untuk menyumbangkan satu-satunya nyawa yang dia punya.
Sejak itu kabar Karim, anak lelakinya hanya sayup-sayup sampai.
Salahiyah cuma berdoa agar umur anaknya agak panjang. Namun itu hanya
harapan. Saat kamp dibombardir mortir, buah hati yang tersisa tergolek
tak bernyawa. Mereka mati di antara puing-puing reruntuhan. Peristiwa
tragis itu disusul berita kematian Karim yang meledakkan tubuhnya di pos
penjagaan Israel.
Salahiyah tidak menangis. Dia hanya menggigit bibirnya. Air bening
meleleh dari kelopak matanya. Dia kini sendiri. Suami, saudara, dan
anak-anaknya begitu cepat meninggalkan dunia ini. Terpaan itu membuatnya
bergabung dengan gerakan intifadah.
Salahiyah berubah menjadi macan betina. Bom demi bom diledakkan. Dia
ditakuti lawan dan disegani kawan. Salahiyah melakukan jihad fi
sabilillah, insyaallah, atau melampiaskan dendam tidak ada yang menyoal.
Setidaknya, hablum minannas dan hablum minallah terpenuhi. Tapi bom Mega
Kuningan? Naudzubillah hi mindzalik !
* Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)
Jumat, 17 Juli 2009
Aurat Rasa ”Salib” Spencer Wall
Friday, 17 July 2009 09:41
Seorang gadis Kristen bertekad memakai jilbab selama satu tahun, agar ia tahu seperti apa rasanya menjadi kelompok minoritas
Hidayatullah.com--Ana McKenzie mempunyai seorang teman yang mencoba untuk meniru gaya hidup wanita Muslim di Amerika. Namanya Spencer Wall, seorang gadis muda dari Texas Barat, siswa tahun keempat jurusan bahasa Inggris dan sosiologi. Ia berbagi cerita mengenai pengalaman gadis itu.
Saya pertama kali memperhatikan Spencer Wall di kelas agama dan masyarakat pada akhir semester lalu. Ia bukanlah tipe yang banyak bicara, tapi kain yang menutupi rambut, leher, dan pundaknya, membuat dirinya kelihatan menonjol di dalam kelas yang besar.
Biasanya saya hanya melihat dia sekilas saja, tanpa perhatian sama sekali. Tapi, ketika ia menceritakan kepada teman-teman di kelas mengenai keputusan yang ia buat pada 27 April, saya mulai memperhatikannya dengan seksama.
Wall seorang gadis usia 20-an tahun. Ia memutuskan untuk mengikuti ciri khas dan cara berpakaian wanita Muslim selama 1 tahun yang dimulai pada akhir April kemarin.
Ia menggunakan kerudung dan busana dengan potongan longgar ke mana pun ia pergi dan tidak mengkonsumsi babi atau alkohol di tempat umum. Ia menghindari kontak mata dan fisik dengan laki-laki dan meniru kebiasaan anggun, seperti berjalan dengan lengan yang merapat di sisi tubuh atau menyilangkannya di depan untuk menutupi dadanya.
Saya melihat Wall melakukan aktivitasnya sehari-hari ketika kami bertemu di Kerbey Lane baru-baru ini.
Ia mengenakan kerudung dengan corak warna hijau dan biru, baju hitam berlengan panjang dan rok panjang berwarna aqua. Hanya memperlihatkan kulitnya beberapa inci saja.
“Beberapa orang yang melewati kami berusaha tidak menampakkan rasa ingin tahu mereka. Hanya berusaha melihat sekilas-sekilas. Tapi kebanyakan orang, bahkan tidak menyembunyikan pandangan yang berlebihan atau menyolok.”
Wall dilewati oleh sekelompok orang yang antri mencari tempat duduk, dan mereka semuanya memandangi belakang kepalanya ketika ia berlalu. Seorang pria bahkan memutar-mutar matanya.
“Hal itu tidak mengejutkan saya,” kata Wall ketika saya bercerita tentang kelompok itu. “Tapi, coba lihat ke sekeliling. Mereka bukan satu-satunya yang begitu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukannya itu bukanlah sebuah eksperimen sosial, tapi lebih pada pengalaman belajar pribadinya. Sebagai seorang wanita kulit putih yang berasal dari sebuah kota kecil di Texas Barat, Wall mengatakan, ia ingin tahu seperti apa rasanya menjadi bagian dari komunitas “minoritas yang diamati.”
“Saya tidak mewakili wanita Muslim atau komunitas Muslim,” katanya. “Saya hanya ingin tahu seperti apa rasanya 'berjalan dengan memakai sepatu mereka' selama beberapa waktu.”
Sebelumnya, Wall sudah mempersiapkan diri untuk “pengalaman belajar”-nya, kalau-kalau orang bertanya kepadanya. Pertanyaan yang biasa diajukan, “Kamu berasal dari mana?”
Ia menghindari hal-hal seperti itu, maka sekarang jika orang bertanya mengenai pakaiannya, langsung saja dijawabnya bahwa ia bukan Muslim. Tapi, mengenakan hijab karena ia memilih untuk melakukannya.
Penjelasan seperti itu tidak seluruhya keliru, sebab sebagaimana Wall bilang, ia tidak bisa keluar rumah tanpa mengenakannya.
“Beberapa waktu lalu saya pernah mencoba untuk tidak mengenakan kerudung selama 24 jam,” katanya. “Saya malah tidak sanggup melakukannya, meskipun selama kurang dari setengah hari.”
Aneka reaksi
Wall mengatakan, ia mendapatkan reaksi yang berbeda-beda ketika mengenakan hijab. Suatu waktu pernah seorang pria menabrak displai barang di Wal-Mart karena pria itu memandanginya. Lain hari sekelompok laki-laki langganan restoran tempatnya bekerja menolak dilayani olehnya. Kelompok itu juga memanggilnya dengan sebutan yang menghina. Tapi, seringkali ia dihindari dengan cara yang terhormat.
“Saya tidak bilang tidak ada pria yang mendekati saya. Mereka mendekati saya, tapi dengan cara yang berbeda sekarang.” katanya. “Lebih sopan, tidak terlalu terang-terangan.”
Pengalaman telah mengajarkan Wall untuk memperhatikan hal-hal kecil yang membuat gaya hidup Muslim tradisional sulit diikuti di Amerika Serikat.
Suatu hari di toko pakaian, Wall harus meminta selembar penutup untuk menutupi lubang antara lantai dan pintu kamar pas, agar ia bisa menutupi kakinya ketika berganti pakaian. Pekerjaannya sebagai pelayan juga harus menghadapi situasi yang canggung karena sifat pekerjaannya yang harus melakukan kontak fisik dengan orang asing, yang mana hal itu terlarang untuk wanita Muslim.
Wall akhirnya bisa memahami privasi semacam itu dan menghormatinya. Mungkin hasil yang tidak terduga dari pengalamannya adalah keyakinannya yang bertambah terhadap agama Kristen yang ia anut.
Agama Islam memerintahkan pengikutnya untuk shalat lima kali sehari, ibadah pertama dimulai pukul 5 pagi. Meskipun Wall belum meniru kebiasaan itu, ia mengatakan mungkin di waktu depan ia akan melakukannya dan lebih sering.
“Kamu kan tahu, kita hidup dalam masyarakat yang tidak acuh terhadap aktivitas keagamaan harian,” katanya. “Dari pengalaman ini, saya semakin peduli dengan Tuhan.”
Dari semua apa yang kami bicarakan, saya ingin mendiskusikan sesuatu yang penting dengannya, tapi saya masih terus menimbang-nimbang. Apakah ia merasa sesak atau bahkan tertekan dengan kebiasaan-kebiasaan yang ia coba tiru itu?
Keterusterangan Wall untuk mendiskusikan masalah-masalah seperti itu membuat saya terkesan padanya. Berkali-kali ia meyakinkan saya agar bertanya, bahkan tentang pertanyaan yang sifatnya menyelidik dan menimbulkan perdebatan. Hal itu menggambarkan kedewasaan dan kecerdasannya yang tidak umum dimiliki gadis usia 20-an.
“Pengalaman ini mengajarkan saya untuk menghormati keputusan seorang wanita, apakah ia ingin tinggal di rumah bersama anak-anaknya, atau mengenakan hijab atau berkarier di luar rumah dan menjadi seorang CEO,” kata Wall.
Ia menghentikan bicaranya, saat seorang gadis memperhatikan belakang kepala Wall.
Mata gadis itu sejenak mengikuti garis-garis kerudung yang berwarna cerah, kemudian segera berlalu. Sepertinya gadis itu memandang bukan karena kasihan kepada Wall atau karena ia merasa dendam, marah atau takut, melainkan karena tertarik dengan kerudungnya.
Wall mengatakan, ia hanya akan memperlihatkan rambutnya di ruangan yang tertutup. Saya mengakui bahwa saya agak iri dengan seseorang yang bisa menghargai sesuatu, yang mana saya anggap hal itu biasa saja. [di/dtc/www.hidayatullah.com]
Seorang gadis Kristen bertekad memakai jilbab selama satu tahun, agar ia tahu seperti apa rasanya menjadi kelompok minoritas
Hidayatullah.com--Ana McKenzie mempunyai seorang teman yang mencoba untuk meniru gaya hidup wanita Muslim di Amerika. Namanya Spencer Wall, seorang gadis muda dari Texas Barat, siswa tahun keempat jurusan bahasa Inggris dan sosiologi. Ia berbagi cerita mengenai pengalaman gadis itu.
Saya pertama kali memperhatikan Spencer Wall di kelas agama dan masyarakat pada akhir semester lalu. Ia bukanlah tipe yang banyak bicara, tapi kain yang menutupi rambut, leher, dan pundaknya, membuat dirinya kelihatan menonjol di dalam kelas yang besar.
Biasanya saya hanya melihat dia sekilas saja, tanpa perhatian sama sekali. Tapi, ketika ia menceritakan kepada teman-teman di kelas mengenai keputusan yang ia buat pada 27 April, saya mulai memperhatikannya dengan seksama.
Wall seorang gadis usia 20-an tahun. Ia memutuskan untuk mengikuti ciri khas dan cara berpakaian wanita Muslim selama 1 tahun yang dimulai pada akhir April kemarin.
Ia menggunakan kerudung dan busana dengan potongan longgar ke mana pun ia pergi dan tidak mengkonsumsi babi atau alkohol di tempat umum. Ia menghindari kontak mata dan fisik dengan laki-laki dan meniru kebiasaan anggun, seperti berjalan dengan lengan yang merapat di sisi tubuh atau menyilangkannya di depan untuk menutupi dadanya.
Saya melihat Wall melakukan aktivitasnya sehari-hari ketika kami bertemu di Kerbey Lane baru-baru ini.
Ia mengenakan kerudung dengan corak warna hijau dan biru, baju hitam berlengan panjang dan rok panjang berwarna aqua. Hanya memperlihatkan kulitnya beberapa inci saja.
“Beberapa orang yang melewati kami berusaha tidak menampakkan rasa ingin tahu mereka. Hanya berusaha melihat sekilas-sekilas. Tapi kebanyakan orang, bahkan tidak menyembunyikan pandangan yang berlebihan atau menyolok.”
Wall dilewati oleh sekelompok orang yang antri mencari tempat duduk, dan mereka semuanya memandangi belakang kepalanya ketika ia berlalu. Seorang pria bahkan memutar-mutar matanya.
“Hal itu tidak mengejutkan saya,” kata Wall ketika saya bercerita tentang kelompok itu. “Tapi, coba lihat ke sekeliling. Mereka bukan satu-satunya yang begitu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukannya itu bukanlah sebuah eksperimen sosial, tapi lebih pada pengalaman belajar pribadinya. Sebagai seorang wanita kulit putih yang berasal dari sebuah kota kecil di Texas Barat, Wall mengatakan, ia ingin tahu seperti apa rasanya menjadi bagian dari komunitas “minoritas yang diamati.”
“Saya tidak mewakili wanita Muslim atau komunitas Muslim,” katanya. “Saya hanya ingin tahu seperti apa rasanya 'berjalan dengan memakai sepatu mereka' selama beberapa waktu.”
Sebelumnya, Wall sudah mempersiapkan diri untuk “pengalaman belajar”-nya, kalau-kalau orang bertanya kepadanya. Pertanyaan yang biasa diajukan, “Kamu berasal dari mana?”
Ia menghindari hal-hal seperti itu, maka sekarang jika orang bertanya mengenai pakaiannya, langsung saja dijawabnya bahwa ia bukan Muslim. Tapi, mengenakan hijab karena ia memilih untuk melakukannya.
Penjelasan seperti itu tidak seluruhya keliru, sebab sebagaimana Wall bilang, ia tidak bisa keluar rumah tanpa mengenakannya.
“Beberapa waktu lalu saya pernah mencoba untuk tidak mengenakan kerudung selama 24 jam,” katanya. “Saya malah tidak sanggup melakukannya, meskipun selama kurang dari setengah hari.”
Aneka reaksi
Wall mengatakan, ia mendapatkan reaksi yang berbeda-beda ketika mengenakan hijab. Suatu waktu pernah seorang pria menabrak displai barang di Wal-Mart karena pria itu memandanginya. Lain hari sekelompok laki-laki langganan restoran tempatnya bekerja menolak dilayani olehnya. Kelompok itu juga memanggilnya dengan sebutan yang menghina. Tapi, seringkali ia dihindari dengan cara yang terhormat.
“Saya tidak bilang tidak ada pria yang mendekati saya. Mereka mendekati saya, tapi dengan cara yang berbeda sekarang.” katanya. “Lebih sopan, tidak terlalu terang-terangan.”
Pengalaman telah mengajarkan Wall untuk memperhatikan hal-hal kecil yang membuat gaya hidup Muslim tradisional sulit diikuti di Amerika Serikat.
Suatu hari di toko pakaian, Wall harus meminta selembar penutup untuk menutupi lubang antara lantai dan pintu kamar pas, agar ia bisa menutupi kakinya ketika berganti pakaian. Pekerjaannya sebagai pelayan juga harus menghadapi situasi yang canggung karena sifat pekerjaannya yang harus melakukan kontak fisik dengan orang asing, yang mana hal itu terlarang untuk wanita Muslim.
Wall akhirnya bisa memahami privasi semacam itu dan menghormatinya. Mungkin hasil yang tidak terduga dari pengalamannya adalah keyakinannya yang bertambah terhadap agama Kristen yang ia anut.
Agama Islam memerintahkan pengikutnya untuk shalat lima kali sehari, ibadah pertama dimulai pukul 5 pagi. Meskipun Wall belum meniru kebiasaan itu, ia mengatakan mungkin di waktu depan ia akan melakukannya dan lebih sering.
“Kamu kan tahu, kita hidup dalam masyarakat yang tidak acuh terhadap aktivitas keagamaan harian,” katanya. “Dari pengalaman ini, saya semakin peduli dengan Tuhan.”
Dari semua apa yang kami bicarakan, saya ingin mendiskusikan sesuatu yang penting dengannya, tapi saya masih terus menimbang-nimbang. Apakah ia merasa sesak atau bahkan tertekan dengan kebiasaan-kebiasaan yang ia coba tiru itu?
Keterusterangan Wall untuk mendiskusikan masalah-masalah seperti itu membuat saya terkesan padanya. Berkali-kali ia meyakinkan saya agar bertanya, bahkan tentang pertanyaan yang sifatnya menyelidik dan menimbulkan perdebatan. Hal itu menggambarkan kedewasaan dan kecerdasannya yang tidak umum dimiliki gadis usia 20-an.
“Pengalaman ini mengajarkan saya untuk menghormati keputusan seorang wanita, apakah ia ingin tinggal di rumah bersama anak-anaknya, atau mengenakan hijab atau berkarier di luar rumah dan menjadi seorang CEO,” kata Wall.
Ia menghentikan bicaranya, saat seorang gadis memperhatikan belakang kepala Wall.
Mata gadis itu sejenak mengikuti garis-garis kerudung yang berwarna cerah, kemudian segera berlalu. Sepertinya gadis itu memandang bukan karena kasihan kepada Wall atau karena ia merasa dendam, marah atau takut, melainkan karena tertarik dengan kerudungnya.
Wall mengatakan, ia hanya akan memperlihatkan rambutnya di ruangan yang tertutup. Saya mengakui bahwa saya agak iri dengan seseorang yang bisa menghargai sesuatu, yang mana saya anggap hal itu biasa saja. [di/dtc/www.hidayatullah.com]
Julius: Mualaf Menjadi Cendikiawan Muslim Disegani di Eropa
dari: http://eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/abdul-karim-germanus-dari-mualaf-menjadi-cendikiawan-muslim-yang-disegani-di-eropa.htm
Monday, 25/05/2009 15:46 WIB
Nama Abdul-Karim Germanus mungkin sangat asing di telinga kita, padahal ia ada salah satu tokoh cendikiawan Muslim Eropa yang menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk membela Islam lewat buku-buku dan karya-karya tulisnya tentang Islam. Sebelum memeluk Islam, Germanus yang bernama asli Julius Germanus adalah seorang Kristiani. Ia menyebut perpindahan agamanya dari Kristen ke Islam sebagai "momen pencerahan" dalam hidupnya.
Germanus lahir di Budapest, ibukota Hungaria pada tahun 1884 dari keluarga Kristen. Ia menjalani masa anak-anak dan remajanya dengan sulit karena selalu dililit berbagai persoalan dan mengalami penindasan. Namun ia bisa melewati masa-masa kelam itu dan berhasil menyelesaikanya kuliahnya di Universitas Budapest. Setelah lulus kuliah, Germanus memutuskan untuk menekuni bidang bahasa Turki. Untuk itu, pada tahun 1903, ia berangkat ke Turki dan kuliah lagi di jurusan bahasa Turki di Universitas Istanbul. Dalam dua tahun, Germanus meraih gelar master di bidang bahasa Turki, ia bisa berbicara, membaca dan menulis bahasa Turki dengan sempurna.
Saat kuliah di Istanbul itulah awal ketertarikan Germanus pada Islam. Karena kuliah di jurusan bahasa, ia mempelajari al-Quran dengan terjemahan bahasa Turki yang memudahkannya memahami ajaran Islam. Germanus terus menggali informasi tentang Islam dan melakukan perbandingan dengan ajaran Kristen, agama yang dianutnya sejak lahir. Ia membandingkan apa yang ditulis Kristen tentang Islam dan apa yang ditulis Quran dan Sunnah tentang Islam. Tentu saja, Germanus mau tidak mau juga harus mempelajari hadist-hadist Rasulullah Muhammad Saw yang diterjemahkan dalam bahasa Turki.
Ketika kembali ke Hungaria, Germanus melihat banyak mantan profesornya yang dikenal orientalis, salah dalam memahami Islam. Tak jarang Germanus harus adu argumentasi dengan para profesor itu soal karakter Rasulullah Muhammad Saw dan hadist-hadistnya. Karena seringnya beradu pendapat soal Islam dengan profesornya, Germanus memutuskan belajar bahasa Arab bahkan Persia. Dan dengan mudah, Germanus berhasil menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik sehingga pada tahun 1912 ia ditunjuk sebagai profesor bidang bahasa Turki, Arab, Persia dan sejarah Islam di Hungarian Royal Academy di Budapest. Ia kemudian ditunjuk untuk mengepalai Departemen Studi Oriental di Universitas Ilmu Ekonomi Budapest. Germanus juga sempat mengabid di Universitas Budapest, tapi tidak lama.
Tahun 1928, setelah keluar dari Universitas Budapest, Germanus diundang Gurudev Rabindranath Tagore dari India untuk mengepalai departemen studi Islam di Universitas Visva-Bharati di Shantiniketan, Bengal. Germanus menetap di India selama beberapa tahun dan di India pula, tepatnya di Mesjid Raya Delhi, Germanus memutuskan menjadi seorang Muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Germanus mengubah namanya Julius dengan nama Islam, Abdul Karim dan ia diberi hak istimewa untuk memberikan khutbah Jumat di masjid itu.
Perhatian Germanus yang sangat besar pada Islam dan Muslim, membuka jalan baginya untuk berkenalan dengan penyair Muslim terkenal pada masa itu, Muhammad Iqbal, asal Pakistan. Germanus dan Iqbal sering terlibat pembicaraan serius tentang Islam dan isu-isu penting yang menjadi tantangan umat Islam seperti pandangan-pandangan dari para orientaslis dan aktivitas para misionaris Kristen.
Dalam hal misionaris Kristen, Germanus dan Iqbal beda pendapat. Menurut Germanus, propaganda yang disebarkan kalangan misionaris Kristen dari Eropa adalah persoalan serius yang mengancam umat Islam. Tapi Iqbal meyakini bahwa persoalan itu timbul karena kesalahan umat Islam sendiri yang kurang mengutamakan persatuan untuk melawan agenda pada misionari.
Selain dengan Iqbal, Germanus juga menjalin hubungan erat dengan penulis asal Mesir, Mahmoud Timour. Dalam sebuah bukunya, Timour menulis tentang perjalanan hidup Germanus menjadi seorang mualaf. Dalam buku itu, Timour mengutip pernyataan Germanus ketika ditanya soal awal mulanya ia memeluk Islam
"Saat itu adalah masa pencerahan bagi saya, karena Islam adalah agama yang benar. Satu hal yang membuat saya tertarik pada Islam karena Islam adalah esensi dari seluruh aspek kehidupan," kata Germanus.
Setelah mempelajari bahasa Arab klasik di Kairo, Mesir. Germanus kembali mengajar di Universitas Budapest dan ia mengabdi di universitas itu selama lebih dari 40 tahun sebagai profesor bidang sejarah dan peradaban. Dalam tulisan hasil risetnya, Germanus menyerukan dunia Arab agar menjaga kelestarian bahasa Arab klasik yang hampir punah. Germanus ingin suatu hari nanti seluruh negara-negara Arab menggunakan bahasa Arab yang sama yang akan menjadi pengikat persatuan negara-negara Arab yang kaya akan warisan budaya dan sejarahnya.
Melawan Pemikiran Orientalis
Selama karir akademisnya, Germanus selalu berseberangan dengan para pemikir orientalis Eropa yang mendukung kolonialisme. Karena seringnya terlibat pertikaian dengan kaum orientalis, Germanus dipecat dari universitas dengan alasan sebagai profesor sikapnya dia sudah bersikap tidak pantas. Di tengah banyaknya tekanan terhadap Germanus, sejumlah mahasiswanya tetap memberikan dukungan dan memuji ide-ide Germanus yang telah banyak mempengaruhi pemikiran kalangan akademisi baik di Barat dan dunia Islam. Berkat dukungan itu, Germanus bisa kembali bekerja di universitas meski diprotes koleganya yang berpikiran orientalis.
Tahun 1962, Organisasi Cendikiawan Muslim Irak memilih Germanus sebagai anggota kehormatan dari luar Irak. Pada tahun yang sama, ia juga dipilih sebagai anggota akademisi bidang bahasa Arab di Kairo dan Damaskus. Di Hungaria, Germanus berusaha menyatukan seluruh Muslim di negaranya yang ketika itu berjumlah antara 1.000-2.000 orang ke dalam satu wadah organisasi dan berhasil meyakinkan pemerintah Hungaria untuk menerima Islam sebagai salah satu agama resmi negara itu.
Tahun 1935, Germanus menunaikan ibadah haji ke tanah suci dan menjadi salah satu dari sedikit Muslim Eropa yang bisa pergi haji pada masa itu. Ia menuliskan pengalaman hajinya ke dalam memoarnya berjudul "Allahu Akbar" yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa.
Dalam berbagai artikel yang diterbitkan di beberapa media Eropa, Germanus menulis,"Saya seorang lelaki Eropa yang tidak menemukan rumah sendiri di negara saya yang sudah diperbudak oleh emas, kekuasaan dan dominasi. Kesederhaan Islam dan penghormatan kaum Muslimin terhadap Islam telah mempengaruhi hidup saya ... Dunia Islam akan tetap menjaga esensi kebenarannya lewat spiritualitas dan teladan yang baik. Dan Islam akan tetap bertahan dengan dasar-dasar ajarannya tentan kebebasan, persaudaraan dan persamaan derajat seluruh umat manusia."
Dalam artikel lain Germanus menulis, "Islam memiliki kelebihan yang mampu mengangkat derajat manusia dari sikap kebinatangan ke peradaban yang sangat mulia. Saya berharap, Islam sekali lagi bisa mencapai mukjizat itu di saat kegelapan menyelubungi kita."
Beberapa buku yang ditulis Germanus antara lain, The Greek, Arabic Literature in Hungarian, Lights of the East, Uncovering the Arabian Peninsula, Between Intellectuals, The History of Arabic Literature, The History of the Arabs, Modern Movements in Islam, Studies in the Grammatical Structure of the Arabic Language, Journeys of Arabs, Pre-Islamic Poetry, Great Arabic Literature, Guidance From the Light of the Crescent (a personal memoir), An Adventure in the Desert, Arab Nationalism, Allahu Akbar, Mahmoud Timour and Modern Arabic Literature, The Great Arab Poets dan The Rise of Arab Culture.
Germanus wafat pada 7 November 1979 setelah hampir selama 50 tahun mengabdikan diri untuk kemajuan Islam dan Muslim di Eropa lewat pemikiran dan karya-karya tulisnya. (ln/readislam)
Monday, 25/05/2009 15:46 WIB
Nama Abdul-Karim Germanus mungkin sangat asing di telinga kita, padahal ia ada salah satu tokoh cendikiawan Muslim Eropa yang menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk membela Islam lewat buku-buku dan karya-karya tulisnya tentang Islam. Sebelum memeluk Islam, Germanus yang bernama asli Julius Germanus adalah seorang Kristiani. Ia menyebut perpindahan agamanya dari Kristen ke Islam sebagai "momen pencerahan" dalam hidupnya.
Germanus lahir di Budapest, ibukota Hungaria pada tahun 1884 dari keluarga Kristen. Ia menjalani masa anak-anak dan remajanya dengan sulit karena selalu dililit berbagai persoalan dan mengalami penindasan. Namun ia bisa melewati masa-masa kelam itu dan berhasil menyelesaikanya kuliahnya di Universitas Budapest. Setelah lulus kuliah, Germanus memutuskan untuk menekuni bidang bahasa Turki. Untuk itu, pada tahun 1903, ia berangkat ke Turki dan kuliah lagi di jurusan bahasa Turki di Universitas Istanbul. Dalam dua tahun, Germanus meraih gelar master di bidang bahasa Turki, ia bisa berbicara, membaca dan menulis bahasa Turki dengan sempurna.
Saat kuliah di Istanbul itulah awal ketertarikan Germanus pada Islam. Karena kuliah di jurusan bahasa, ia mempelajari al-Quran dengan terjemahan bahasa Turki yang memudahkannya memahami ajaran Islam. Germanus terus menggali informasi tentang Islam dan melakukan perbandingan dengan ajaran Kristen, agama yang dianutnya sejak lahir. Ia membandingkan apa yang ditulis Kristen tentang Islam dan apa yang ditulis Quran dan Sunnah tentang Islam. Tentu saja, Germanus mau tidak mau juga harus mempelajari hadist-hadist Rasulullah Muhammad Saw yang diterjemahkan dalam bahasa Turki.
Ketika kembali ke Hungaria, Germanus melihat banyak mantan profesornya yang dikenal orientalis, salah dalam memahami Islam. Tak jarang Germanus harus adu argumentasi dengan para profesor itu soal karakter Rasulullah Muhammad Saw dan hadist-hadistnya. Karena seringnya beradu pendapat soal Islam dengan profesornya, Germanus memutuskan belajar bahasa Arab bahkan Persia. Dan dengan mudah, Germanus berhasil menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik sehingga pada tahun 1912 ia ditunjuk sebagai profesor bidang bahasa Turki, Arab, Persia dan sejarah Islam di Hungarian Royal Academy di Budapest. Ia kemudian ditunjuk untuk mengepalai Departemen Studi Oriental di Universitas Ilmu Ekonomi Budapest. Germanus juga sempat mengabid di Universitas Budapest, tapi tidak lama.
Tahun 1928, setelah keluar dari Universitas Budapest, Germanus diundang Gurudev Rabindranath Tagore dari India untuk mengepalai departemen studi Islam di Universitas Visva-Bharati di Shantiniketan, Bengal. Germanus menetap di India selama beberapa tahun dan di India pula, tepatnya di Mesjid Raya Delhi, Germanus memutuskan menjadi seorang Muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Germanus mengubah namanya Julius dengan nama Islam, Abdul Karim dan ia diberi hak istimewa untuk memberikan khutbah Jumat di masjid itu.
Perhatian Germanus yang sangat besar pada Islam dan Muslim, membuka jalan baginya untuk berkenalan dengan penyair Muslim terkenal pada masa itu, Muhammad Iqbal, asal Pakistan. Germanus dan Iqbal sering terlibat pembicaraan serius tentang Islam dan isu-isu penting yang menjadi tantangan umat Islam seperti pandangan-pandangan dari para orientaslis dan aktivitas para misionaris Kristen.
Dalam hal misionaris Kristen, Germanus dan Iqbal beda pendapat. Menurut Germanus, propaganda yang disebarkan kalangan misionaris Kristen dari Eropa adalah persoalan serius yang mengancam umat Islam. Tapi Iqbal meyakini bahwa persoalan itu timbul karena kesalahan umat Islam sendiri yang kurang mengutamakan persatuan untuk melawan agenda pada misionari.
Selain dengan Iqbal, Germanus juga menjalin hubungan erat dengan penulis asal Mesir, Mahmoud Timour. Dalam sebuah bukunya, Timour menulis tentang perjalanan hidup Germanus menjadi seorang mualaf. Dalam buku itu, Timour mengutip pernyataan Germanus ketika ditanya soal awal mulanya ia memeluk Islam
"Saat itu adalah masa pencerahan bagi saya, karena Islam adalah agama yang benar. Satu hal yang membuat saya tertarik pada Islam karena Islam adalah esensi dari seluruh aspek kehidupan," kata Germanus.
Setelah mempelajari bahasa Arab klasik di Kairo, Mesir. Germanus kembali mengajar di Universitas Budapest dan ia mengabdi di universitas itu selama lebih dari 40 tahun sebagai profesor bidang sejarah dan peradaban. Dalam tulisan hasil risetnya, Germanus menyerukan dunia Arab agar menjaga kelestarian bahasa Arab klasik yang hampir punah. Germanus ingin suatu hari nanti seluruh negara-negara Arab menggunakan bahasa Arab yang sama yang akan menjadi pengikat persatuan negara-negara Arab yang kaya akan warisan budaya dan sejarahnya.
Melawan Pemikiran Orientalis
Selama karir akademisnya, Germanus selalu berseberangan dengan para pemikir orientalis Eropa yang mendukung kolonialisme. Karena seringnya terlibat pertikaian dengan kaum orientalis, Germanus dipecat dari universitas dengan alasan sebagai profesor sikapnya dia sudah bersikap tidak pantas. Di tengah banyaknya tekanan terhadap Germanus, sejumlah mahasiswanya tetap memberikan dukungan dan memuji ide-ide Germanus yang telah banyak mempengaruhi pemikiran kalangan akademisi baik di Barat dan dunia Islam. Berkat dukungan itu, Germanus bisa kembali bekerja di universitas meski diprotes koleganya yang berpikiran orientalis.
Tahun 1962, Organisasi Cendikiawan Muslim Irak memilih Germanus sebagai anggota kehormatan dari luar Irak. Pada tahun yang sama, ia juga dipilih sebagai anggota akademisi bidang bahasa Arab di Kairo dan Damaskus. Di Hungaria, Germanus berusaha menyatukan seluruh Muslim di negaranya yang ketika itu berjumlah antara 1.000-2.000 orang ke dalam satu wadah organisasi dan berhasil meyakinkan pemerintah Hungaria untuk menerima Islam sebagai salah satu agama resmi negara itu.
Tahun 1935, Germanus menunaikan ibadah haji ke tanah suci dan menjadi salah satu dari sedikit Muslim Eropa yang bisa pergi haji pada masa itu. Ia menuliskan pengalaman hajinya ke dalam memoarnya berjudul "Allahu Akbar" yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa.
Dalam berbagai artikel yang diterbitkan di beberapa media Eropa, Germanus menulis,"Saya seorang lelaki Eropa yang tidak menemukan rumah sendiri di negara saya yang sudah diperbudak oleh emas, kekuasaan dan dominasi. Kesederhaan Islam dan penghormatan kaum Muslimin terhadap Islam telah mempengaruhi hidup saya ... Dunia Islam akan tetap menjaga esensi kebenarannya lewat spiritualitas dan teladan yang baik. Dan Islam akan tetap bertahan dengan dasar-dasar ajarannya tentan kebebasan, persaudaraan dan persamaan derajat seluruh umat manusia."
Dalam artikel lain Germanus menulis, "Islam memiliki kelebihan yang mampu mengangkat derajat manusia dari sikap kebinatangan ke peradaban yang sangat mulia. Saya berharap, Islam sekali lagi bisa mencapai mukjizat itu di saat kegelapan menyelubungi kita."
Beberapa buku yang ditulis Germanus antara lain, The Greek, Arabic Literature in Hungarian, Lights of the East, Uncovering the Arabian Peninsula, Between Intellectuals, The History of Arabic Literature, The History of the Arabs, Modern Movements in Islam, Studies in the Grammatical Structure of the Arabic Language, Journeys of Arabs, Pre-Islamic Poetry, Great Arabic Literature, Guidance From the Light of the Crescent (a personal memoir), An Adventure in the Desert, Arab Nationalism, Allahu Akbar, Mahmoud Timour and Modern Arabic Literature, The Great Arab Poets dan The Rise of Arab Culture.
Germanus wafat pada 7 November 1979 setelah hampir selama 50 tahun mengabdikan diri untuk kemajuan Islam dan Muslim di Eropa lewat pemikiran dan karya-karya tulisnya. (ln/readislam)
Sarah Allen: Pengalaman Puasa Yang Berat, Menuntunnya Masuk Islam


Senin, 29/06/2009 10:59 WIB
Bulan Ramadhan menjadi bulan yang penuh kenangan bagi Sarah Allen. Karena pada bulan suci itulah Sarah mengalami perubahan besar dalam hidupnya, yang membulatkan tekadnya untuk segera bersyahadat.
Ia ingat, ketika Ramadhan tiba, baru setahun ia mempelajari agama Islam. Meski baru setahun mempelajari Islam, Sarah menemukan bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna dan saat itu Sarah sudah punya keinginan untuk menjadi seorang Muslim.
"Setelah mempelajari agama Islam, saya makin tertarik untuk memperdalam agama ini, yang menurut saya sangat sempurna. Setelah mempelajari agama Islam, saya merasakan hidup saya pelan-pelan berubah. Cara berpakaian saya jadi lebih sopan, saya jadi lebih rendah hati dan saya merasakan kedamaian dengan perubahan itu," ungkap Sarah.
Ia melanjutkan, "Saya sadar apa yang telah membuat saya berubah dan saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya tahu, keputusan ini akan membawa perubahan besar bukan hanya bagi hidup saya, tapi juga orang-orang tercinta di sekeliling saya. Saya pun memutuskan untuk melakukannya dengan pelan dan bertahap sebelum saya betul-betul menyatakan diri sebagai seorang Muslim."
Bulan Ramadhan datang, Sarah berpikir inilah saat yang tepat baginya untuk mempraktekkan apa yang ia ketahui tentang Islam. Ia memutuskan untuk ikut berpuasa meski saat itu ia belum menjadi seorang Muslim. Selama mempelajari Islam, Sarah tahu umat Islam diwajibkan berpuasa pada saat bulan Ramadhan. Ia berpikir, pastilah sangat berat melakukan puasa, tidak makan dan tidak minum sehari penuh. Dan itu akhirnya ia rasakan sendiri saat Sarah mencoba berpuasa.
"Saya berpikir, pasti sulit rasanya tidak makan dan tidak minum seharian penuh. Dan saya benar ! Apalagi berpuasa pada saat musim panas, masa yang paling berat yang pernah saya rasakah. Tapi pahalanya juga besar," ujar Sarah tentang pengalaman puasanya.
Menurutnya, ketika ia berpuasa hal yang paling berat adalah melihat orang di sekitarnya makan tanpa menyadari ia sedang berpuasa. Tapi tantangan itu membuat tekad Sarah makin kuat. "Saya kira apa yang saya rasakan juga dialami oleh saudara-saudara seiman saya di seluruh dunia, kami menahan diri dari makan dan minum untuk Allah Swt. Kita akan merasakan perasaan yang luar biasa ..." ujar Sarah.
"Saya merasa seperti seorang yang sangat kuat, karena saya harus mengendalikan perilaku dan tubuh kita. Dalam kondisi itu, Anda akan merasakan bahwa Anda-lah yang punya kekuatan dan menentukan apa saja yang akan Anda lakukan."
"Kebiasan-kebiasaan buruk harus ditunggalkan dan Anda akan merasa seperti manusia yang baru. Anda akan merasa lebih kuat dari sisi spiritual, lebih disiplin dan lebih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sosial Anda," papar Sarah mengungkapkan apa yang dirasakannya saat berpuasa.
Tiga tahun lamanya, Sarah mempelajari Islam dan selalu ikut berpuasa di bulan Ramadhan. Akhirnya, pada bulan Januari 2005, pada usia 19 tahun, perempuan asal Sydney Australia itu memutuskan untuk bersyahadat dan menjadi seorang Muslimah.
Pengalaman berpuasa telah memberikannya banyak pengalaman batin untuk menghayati makna ibadah puasa bagi seorang Muslim. Bedanya, kata Sarah, setelah ia menjadi seorang Muslim, ia jadi lebih memahami kewajiban berpuasa dan aturan dan tata cara menjalankan ibadah puasa.
"Satu hal yang paling saya sukai pada bulan Ramadhan, saya merasakan Ramadhan makin memperkuat umat Islam dan saya merasakan rasa persatuan yang begitu dalam," kata Sarah menutup ceritanya tentang pengalaman berpuasa yang mengantarkannya menjadi seorang Muslimah. (ln/readislam-iol)
Kamis, 16 Juli 2009
Seorang Pastor Doakan Obama Cepat Mati
Seorang Pastor Doakan Obama Cepat Mati
Kamis, 16/07/2009 09:39 WIB
http://eramuslim.com/berita/dunia/obama-di-doakan-cepat-mati-oleh-seorang-pastor.htm
Sungguh berani pastor satu ini, pastor dari gereja Baptis di Buena Park California bernama Drake Wiley - meminta kepada para jemaat gereja untuk mendoakan supaya Presiden Barack Obama segera mati.
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh radio Fox, sewaktu ditanyakan apakah benar dirinya mendoakan presiden Obama mati, dengan tegas pastor tersebut menjawab "Ya".
Sewaktu ditanyakan kepada dirinya, apakah dia tidak khawatir dengan mengatakan seperti itu, dirinya akan dipanggil oleh pasukan pengawal presiden (Secret Service) atau FBI dan menjadi orang yang paling dicari, serta apakah menurutnya sesuatu yang tepat untuk mendoakan presiden Obama segera mati. Pastor Drake malah mengatakan bahwa dirinya berdoa seperti itu adalah merupakan kehendak dari Tuhan, dengan penuh percaya diri dia mengatakan semua yang dilakukannya hanya mengulangi apa yang Tuhan katakan dan ia tidak takut seandainya ia masuk dalam daftar orang yang akan dicari oleh FBI atau secret service sekalipun.
Pastor Drake juga mengatakan bahwa jika Obama tidak segera kembali hidupnya ke jalan Tuhan dia akan tetap meminta kepada Tuhan untuk menegakkan hukumnya dengan balasan Obama segara mati.
Rekaman wawancara Radio Fox dengan pastor Drake Wiley bisa didengar di sini.
Sebagian Kristen di Amerika masih belum percaya bahwa presiden Barack Obama adalah seorang Kristen juga dan masih banyak yang menyatakan dia adalah Muslim mengingat dari keluarga bapaknya adalah Muslim Kenya, sedangkan di Israel banyak masyarakat Yahudi meragukan komitmen Obama untuk membela negara Yahudi tersebut, setelah dirinya melakukan kunjungan ke beberapa negara Muslim dan di Mesir dia sempat menyampaikan pidato serta menyampaikan pesan khusus kepada dunia Islam.(fq/anorak)
Kamis, 16/07/2009 09:39 WIB
http://eramuslim.com/berita/dunia/obama-di-doakan-cepat-mati-oleh-seorang-pastor.htm
Sungguh berani pastor satu ini, pastor dari gereja Baptis di Buena Park California bernama Drake Wiley - meminta kepada para jemaat gereja untuk mendoakan supaya Presiden Barack Obama segera mati.
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh radio Fox, sewaktu ditanyakan apakah benar dirinya mendoakan presiden Obama mati, dengan tegas pastor tersebut menjawab "Ya".
Sewaktu ditanyakan kepada dirinya, apakah dia tidak khawatir dengan mengatakan seperti itu, dirinya akan dipanggil oleh pasukan pengawal presiden (Secret Service) atau FBI dan menjadi orang yang paling dicari, serta apakah menurutnya sesuatu yang tepat untuk mendoakan presiden Obama segera mati. Pastor Drake malah mengatakan bahwa dirinya berdoa seperti itu adalah merupakan kehendak dari Tuhan, dengan penuh percaya diri dia mengatakan semua yang dilakukannya hanya mengulangi apa yang Tuhan katakan dan ia tidak takut seandainya ia masuk dalam daftar orang yang akan dicari oleh FBI atau secret service sekalipun.
Pastor Drake juga mengatakan bahwa jika Obama tidak segera kembali hidupnya ke jalan Tuhan dia akan tetap meminta kepada Tuhan untuk menegakkan hukumnya dengan balasan Obama segara mati.
Rekaman wawancara Radio Fox dengan pastor Drake Wiley bisa didengar di sini.
Sebagian Kristen di Amerika masih belum percaya bahwa presiden Barack Obama adalah seorang Kristen juga dan masih banyak yang menyatakan dia adalah Muslim mengingat dari keluarga bapaknya adalah Muslim Kenya, sedangkan di Israel banyak masyarakat Yahudi meragukan komitmen Obama untuk membela negara Yahudi tersebut, setelah dirinya melakukan kunjungan ke beberapa negara Muslim dan di Mesir dia sempat menyampaikan pidato serta menyampaikan pesan khusus kepada dunia Islam.(fq/anorak)
Gereja, Terancam Harry Potter
Gereja, Terancam Harry Potter
Kamis, 16/07/2009 08:03 WIB Cetak | Kirim
Inilah gambaran lain dari agama Kristen sebenarnya di Eropa dan Barat. Agama dengan pemeluk paling banyak saat ini di dunia sudah sejak satu dasawarsa terakhir memang menyulut peperangan dengan Harry Potter. Terutama menjelang dirilisnya film keenam Harry Potter yang berjudul “Harry Potter and The Half Blood Prince.” Ini karena sudah sejak lama gereja merasa bahwa film ini mengajak pemeluk Kristen untuk menjauh dari nilai keyakinan Kristus.
Sejak tahun 2003, Vatikan—pusat Kristen sedunia—merasakan ancaman dari Harry Potter. Baik buku ataupun filmnya dinilai gereja selalu meremehkan ajaran Kristen. Bahkan pada tahun yang sama, Josep Ratzinger dua tahun sebelum terpilih sebagai Paus Benedict XVI, sudah mengatakan bahwa cerita-cerita fiksi karangan J.K. Rowling tersebut telah mengorupsi dan mengancam ajaran Kristen, terutama di kalangan remaja Kristen. “Sangat bagus jika Anda menerangkan fakta tentang Harry Potter.” tulisnya enam tahun lalu ketika mengkritik buku-buku Harry Potter. Ratzinger secara terang-terangan mengatakan bahwa Harry Potter adalah anti-agama (Kristen) dan menganjurkan pengultusan, “Ini ajakan yang sangat pintar, yang tak diperhatikan secara langsung efeknya dalam meremehkan ajaran Kristen sebelum terus berkembang lebih luas lagi.”
Namun, sekarang, tampaknya sang Paus sendiri sudah terkena “mantra sihir” Potter. Ketika film Harry Potter terbaru itu akan dirilis kemarin (15/07), L’Osservatore Romano—harian yang diterbitkan oleh Vatikan—menyebutkan film Harry Potter sebagai sebuah “referensi yang inspirasional.” Bahkan menambahkan dengan kalimat, “(Harry Potter) sebuah garis tipis antara kebaikan dan kejahatan, membuat jelas bagaimana kebaikan itu sesuatu yang benar, dan dalam beberapa hal, Harry Potter mengajarkan kerja keras dan pengorbanan.”
Sikap Vatikan ini jelas sebuah kondisi yang berbeda 180 derajat dari sikap asalnya. Harian L’Osservatore itu bahkan baru tahun lalu masih kukuh pendirian bahwa Harry Potter adalah sebuah anjuran yang berbahaya.
Bukan sekali ini saja Vatikan merasa “diremehkan” oleh cerita fiksi. Selain Harry Potter, ada juga The Da Vinci Code—filmnya dibintangi Tom Hanks sedangkan bukunya ditulis oleh Dan Brown. Di situ digambarkan bahwa Yesus Kristus menikahi Maria Magdalena dan mempunyai anak-anak. Vatikan langsung mengeluarkan pernyataan bahwa film (dan buku ini) penuh dengan ketidakakuratan dan karakter yang streotip. (sa/times)
Kamis, 16/07/2009 08:03 WIB Cetak | Kirim
Inilah gambaran lain dari agama Kristen sebenarnya di Eropa dan Barat. Agama dengan pemeluk paling banyak saat ini di dunia sudah sejak satu dasawarsa terakhir memang menyulut peperangan dengan Harry Potter. Terutama menjelang dirilisnya film keenam Harry Potter yang berjudul “Harry Potter and The Half Blood Prince.” Ini karena sudah sejak lama gereja merasa bahwa film ini mengajak pemeluk Kristen untuk menjauh dari nilai keyakinan Kristus.
Sejak tahun 2003, Vatikan—pusat Kristen sedunia—merasakan ancaman dari Harry Potter. Baik buku ataupun filmnya dinilai gereja selalu meremehkan ajaran Kristen. Bahkan pada tahun yang sama, Josep Ratzinger dua tahun sebelum terpilih sebagai Paus Benedict XVI, sudah mengatakan bahwa cerita-cerita fiksi karangan J.K. Rowling tersebut telah mengorupsi dan mengancam ajaran Kristen, terutama di kalangan remaja Kristen. “Sangat bagus jika Anda menerangkan fakta tentang Harry Potter.” tulisnya enam tahun lalu ketika mengkritik buku-buku Harry Potter. Ratzinger secara terang-terangan mengatakan bahwa Harry Potter adalah anti-agama (Kristen) dan menganjurkan pengultusan, “Ini ajakan yang sangat pintar, yang tak diperhatikan secara langsung efeknya dalam meremehkan ajaran Kristen sebelum terus berkembang lebih luas lagi.”
Namun, sekarang, tampaknya sang Paus sendiri sudah terkena “mantra sihir” Potter. Ketika film Harry Potter terbaru itu akan dirilis kemarin (15/07), L’Osservatore Romano—harian yang diterbitkan oleh Vatikan—menyebutkan film Harry Potter sebagai sebuah “referensi yang inspirasional.” Bahkan menambahkan dengan kalimat, “(Harry Potter) sebuah garis tipis antara kebaikan dan kejahatan, membuat jelas bagaimana kebaikan itu sesuatu yang benar, dan dalam beberapa hal, Harry Potter mengajarkan kerja keras dan pengorbanan.”
Sikap Vatikan ini jelas sebuah kondisi yang berbeda 180 derajat dari sikap asalnya. Harian L’Osservatore itu bahkan baru tahun lalu masih kukuh pendirian bahwa Harry Potter adalah sebuah anjuran yang berbahaya.
Bukan sekali ini saja Vatikan merasa “diremehkan” oleh cerita fiksi. Selain Harry Potter, ada juga The Da Vinci Code—filmnya dibintangi Tom Hanks sedangkan bukunya ditulis oleh Dan Brown. Di situ digambarkan bahwa Yesus Kristus menikahi Maria Magdalena dan mempunyai anak-anak. Vatikan langsung mengeluarkan pernyataan bahwa film (dan buku ini) penuh dengan ketidakakuratan dan karakter yang streotip. (sa/times)
Rabu, 15 Juli 2009
SIAPAKAH YANG LEBIH PANTAS MASUK SURGA NABI MUHAMMAD atau BUNDA THERESIA ?
Beberapa waktu yang lalu, kami diundang memberikan kajian khusus di rumah keluarga Bapak
Fulan di Bintaro. Temanya juga khusus yaitu : Mana Yang Benar Islam Atau Kristen?.
Sebelumnya, beliau menceritakan bahwa dia mempunyai tiga anak dari istrinya yang pertama
yang telah diceraikannya. Kini mantan istrinya murtad masuk Kristen dan menikah lagi dgn
orang Bule Australia, dan saat ini mereka tinggal di Australia. Karena satu dan lain hal,
ketiga anak tsb dikirim ayahnya ke Australia, sekolah di sana dan tinggal dengan mantan
istrinya.
Bisa dibayangkan, tiga anaknya yang beragama Islam ini, tinggal serumah dgn ibunya yang
murtad ke Kristen, bersama ayah tiri mereka yang Kristen juga, dan bersekolah di negara
sekuler. Anaknya pertama wanita kuliah, kedua laki-laki SMA dan ketiga laki-laki masih
SMP.
Saat liburan panjang, tiga anaknya pulang ke Indonesia, tinggal bersama ayah mereka di
Bintaro. Karena Bpk Fulan ragu aqidah anaknya terganggu, beliau mengundang kami untuk
memberikan kajian Kristologi, tujuannya agar ketiga anaknya tidak akan murtad ke Kristen.
Selama kajian berlangsung, nampak ketiga wajah anak-anaknya tidak nyaman dgn tema kajian
kami. Usai kajian, diberikan kesempatan bertanya, namun tidak satupun dari mereka yang
bertanya. Tiba-tiba salah seorang anaknya protes, tidak setuju dengan tema kajian tadi.
?Kalau hanya Islam agama yang benar, berarti bunda Theresia masuk neraka dong! Saya tidak
terima!? kata anaknya yang SMA. ?Kamu harus paham, sebenarnya Bunda Theresia itu
Islam!?, jawab ayahnya agak emosi. Jawaban pak Fulan kepada anaknya inipun keliru.
Mestinya bahwa apa yang bunda Theresia lakukan itu adalah ajaran Islam.
Tengkaran mulut semakin memanas, maka kami langsung menengahi dan bertanya: Apa maksud
pernyataanmu tadi nak?. Jawabnya: Nabi Muhammad kan punya beberapa istri, berarti dia
melakukan banyak dosa sebab bersentuhan langsung dengan wanita. Tapi bunda Theresia tidak
menikah, tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki dan seumur hidupnya dia baktikan
dirinya untuk kegiatan sosial, banyak membantu & menolong orang-orang miskin. Pahalanya
sangat banyak, makanya dia yang lebih pantas masuk surga daripada Muhammad!
Kami tidak menyangka sejauh itu pemikiran anak pak Fulan. Sebelum diluruskan, kami minta
dia menjawab dgn jujur, ?Apakah sampai saat ini kamu masih beragama Islam?. Jawabnya:
Ya saya masih beragama Islam!. Kemudian, Apakah menurut kamu Al Qur`an itu wahyu
Allah?. Jawabnya: Benar Al Qur`an wahyu Allah!. Selanjutnya, Kalau Al Quran wahyu
Allah, berarti apa saja yang tertulis dalam Al Qur`an adalah benar kan? Jawabnya:
Benar!. Kalau begitu, Apakah Yesus itu diyakini oleh bunda Theresia sebagai Tuhan?.
Jawabnya: Benar, dia yakini Yesus Tuhan!. Selanjutnya kami persilahkan dia sendiri
yang bacakan Qur`an surat 5 Al Maaidah:72
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih
putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah
Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
Nah berdasarkan ayat tsb, karena bunda Theresia menuhankan Yesus, berarti dia kafir dan masuk neraka kan?
Pertanyaan selanjutnya : Apakah bunda Theresia menyembah kepada Yesus?. Dengan tegas
dia katakan: Benar. Kami persilahkan dia bacakan Injil Matius 4:10, sbb: Maka
berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!.
Dalam ayat lain Yesus bersaksi bahwa dia bukan Tuhan tapi hanya utusan Tuhan: Inilah
hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yoh 17:3)
Dari ayat-ayat tsb Yesus bersaksi dgn jujur bahwa menyembah hanya kpd Allah, Allah itu
Esa dan dia hanya diutus Tuhan. Karena bunda Theresia menyembah kepada Yesus dan
dijadikannya Yesus Tuhan, berarti dia menyekutukan Tuhan. Dalam Al Qur`an, yang
menyekutukan Tuhan berarti melakukan dosa syirik, yaitu dosa yg tidak diampuni Allah swt.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS 4:48).
Menurut Qur`an, yang didapat bunda Theresia hanyalah pahala dunia, bukan akhirat, dan
kepadanya tdk ada jaminan masuk surga, tetapi Nabi Muhammad sudah dijamin masuk surga
sebab dosanya yg lalu maupun yg akan datang sudah diampuni Allah swt, sebagaimana firman
Nya : Agar Allah mengampuni dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang serta
menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukimu jalan yang lurus. (Qs 48:2)
Alhamdulillah mereka sadar & mau membawa buku-buku tulisan kami ke Australia yg intinya
menjelaskan kebenaran Islam & kekeliruan Kristen, dan khusus berdakwah kpd non muslim
Kisah nyata ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, jangan sembarang menyekolahkan
anak-anak kita di Negara Barat / Sekuler. Jika mereka tidak murtad, minimal pemikirannya jadi sekuler atau liberal. Kami yakin ketiga anak pak Fulan tsb sudah mereka Brain Wash
di negara Kanguru tsb. Mudah-mudah dgn adanya pertemuan dgn kami, membuat mereka yakin
akan kebenaran Islam & tidak mudah dimurtadkan dan tidak beranggapan semua agama benar.
-------------------------------------------------------------
Betapa banyak kasus-kasus pemurtadan dan pelunturan aqidah seperti ini yang mereka
lakukan terhadap umat Islam, hanya saja tidak terekspos karena minimnya dana dan
kurangnya kepedulian sesama terhadap usaha-usaha seperti yang kami lakukan.
Melayani Diskusi, Dialog & Konsultasi Kasus Islam & Kristen.
Kontak Pengasuh : 0815.8787.627 -- 021 7098 4849
Email: insan@birrul-walidain.com & ddiidepok@yahoo.co.id
Web : www.birrul-walidain.com
Blog : bwbirrulwalidain.blogspot.com
Group ‘facebook’ : birrul walidain
Zakat, infaq, shadaqah & bantuan Anda lainnya, akan mempermudah kami menangani berbagai
kasus dan membantu terhadap umat yang membutuhkan bantuan kami di mana saja.
Dompet Antisipasi Pemurtadan & Peduli Umat
Bank Mandiri Jkt 129 0093042410 - Bank BCA Jkt 005 1977202
Bank Muamalat Jkt. 301.38256.20 - Bank BNI Jkt. 0005519566
a/n Insan LS Mokoginta
Fulan di Bintaro. Temanya juga khusus yaitu : Mana Yang Benar Islam Atau Kristen?.
Sebelumnya, beliau menceritakan bahwa dia mempunyai tiga anak dari istrinya yang pertama
yang telah diceraikannya. Kini mantan istrinya murtad masuk Kristen dan menikah lagi dgn
orang Bule Australia, dan saat ini mereka tinggal di Australia. Karena satu dan lain hal,
ketiga anak tsb dikirim ayahnya ke Australia, sekolah di sana dan tinggal dengan mantan
istrinya.
Bisa dibayangkan, tiga anaknya yang beragama Islam ini, tinggal serumah dgn ibunya yang
murtad ke Kristen, bersama ayah tiri mereka yang Kristen juga, dan bersekolah di negara
sekuler. Anaknya pertama wanita kuliah, kedua laki-laki SMA dan ketiga laki-laki masih
SMP.
Saat liburan panjang, tiga anaknya pulang ke Indonesia, tinggal bersama ayah mereka di
Bintaro. Karena Bpk Fulan ragu aqidah anaknya terganggu, beliau mengundang kami untuk
memberikan kajian Kristologi, tujuannya agar ketiga anaknya tidak akan murtad ke Kristen.
Selama kajian berlangsung, nampak ketiga wajah anak-anaknya tidak nyaman dgn tema kajian
kami. Usai kajian, diberikan kesempatan bertanya, namun tidak satupun dari mereka yang
bertanya. Tiba-tiba salah seorang anaknya protes, tidak setuju dengan tema kajian tadi.
?Kalau hanya Islam agama yang benar, berarti bunda Theresia masuk neraka dong! Saya tidak
terima!? kata anaknya yang SMA. ?Kamu harus paham, sebenarnya Bunda Theresia itu
Islam!?, jawab ayahnya agak emosi. Jawaban pak Fulan kepada anaknya inipun keliru.
Mestinya bahwa apa yang bunda Theresia lakukan itu adalah ajaran Islam.
Tengkaran mulut semakin memanas, maka kami langsung menengahi dan bertanya: Apa maksud
pernyataanmu tadi nak?. Jawabnya: Nabi Muhammad kan punya beberapa istri, berarti dia
melakukan banyak dosa sebab bersentuhan langsung dengan wanita. Tapi bunda Theresia tidak
menikah, tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki dan seumur hidupnya dia baktikan
dirinya untuk kegiatan sosial, banyak membantu & menolong orang-orang miskin. Pahalanya
sangat banyak, makanya dia yang lebih pantas masuk surga daripada Muhammad!
Kami tidak menyangka sejauh itu pemikiran anak pak Fulan. Sebelum diluruskan, kami minta
dia menjawab dgn jujur, ?Apakah sampai saat ini kamu masih beragama Islam?. Jawabnya:
Ya saya masih beragama Islam!. Kemudian, Apakah menurut kamu Al Qur`an itu wahyu
Allah?. Jawabnya: Benar Al Qur`an wahyu Allah!. Selanjutnya, Kalau Al Quran wahyu
Allah, berarti apa saja yang tertulis dalam Al Qur`an adalah benar kan? Jawabnya:
Benar!. Kalau begitu, Apakah Yesus itu diyakini oleh bunda Theresia sebagai Tuhan?.
Jawabnya: Benar, dia yakini Yesus Tuhan!. Selanjutnya kami persilahkan dia sendiri
yang bacakan Qur`an surat 5 Al Maaidah:72
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih
putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah
Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
Nah berdasarkan ayat tsb, karena bunda Theresia menuhankan Yesus, berarti dia kafir dan masuk neraka kan?
Pertanyaan selanjutnya : Apakah bunda Theresia menyembah kepada Yesus?. Dengan tegas
dia katakan: Benar. Kami persilahkan dia bacakan Injil Matius 4:10, sbb: Maka
berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!.
Dalam ayat lain Yesus bersaksi bahwa dia bukan Tuhan tapi hanya utusan Tuhan: Inilah
hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yoh 17:3)
Dari ayat-ayat tsb Yesus bersaksi dgn jujur bahwa menyembah hanya kpd Allah, Allah itu
Esa dan dia hanya diutus Tuhan. Karena bunda Theresia menyembah kepada Yesus dan
dijadikannya Yesus Tuhan, berarti dia menyekutukan Tuhan. Dalam Al Qur`an, yang
menyekutukan Tuhan berarti melakukan dosa syirik, yaitu dosa yg tidak diampuni Allah swt.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS 4:48).
Menurut Qur`an, yang didapat bunda Theresia hanyalah pahala dunia, bukan akhirat, dan
kepadanya tdk ada jaminan masuk surga, tetapi Nabi Muhammad sudah dijamin masuk surga
sebab dosanya yg lalu maupun yg akan datang sudah diampuni Allah swt, sebagaimana firman
Nya : Agar Allah mengampuni dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang serta
menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukimu jalan yang lurus. (Qs 48:2)
Alhamdulillah mereka sadar & mau membawa buku-buku tulisan kami ke Australia yg intinya
menjelaskan kebenaran Islam & kekeliruan Kristen, dan khusus berdakwah kpd non muslim
Kisah nyata ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, jangan sembarang menyekolahkan
anak-anak kita di Negara Barat / Sekuler. Jika mereka tidak murtad, minimal pemikirannya jadi sekuler atau liberal. Kami yakin ketiga anak pak Fulan tsb sudah mereka Brain Wash
di negara Kanguru tsb. Mudah-mudah dgn adanya pertemuan dgn kami, membuat mereka yakin
akan kebenaran Islam & tidak mudah dimurtadkan dan tidak beranggapan semua agama benar.
-------------------------------------------------------------
Betapa banyak kasus-kasus pemurtadan dan pelunturan aqidah seperti ini yang mereka
lakukan terhadap umat Islam, hanya saja tidak terekspos karena minimnya dana dan
kurangnya kepedulian sesama terhadap usaha-usaha seperti yang kami lakukan.
Melayani Diskusi, Dialog & Konsultasi Kasus Islam & Kristen.
Kontak Pengasuh : 0815.8787.627 -- 021 7098 4849
Email: insan@birrul-walidain.com & ddiidepok@yahoo.co.id
Web : www.birrul-walidain.com
Blog : bwbirrulwalidain.blogspot.com
Group ‘facebook’ : birrul walidain
Zakat, infaq, shadaqah & bantuan Anda lainnya, akan mempermudah kami menangani berbagai
kasus dan membantu terhadap umat yang membutuhkan bantuan kami di mana saja.
Dompet Antisipasi Pemurtadan & Peduli Umat
Bank Mandiri Jkt 129 0093042410 - Bank BCA Jkt 005 1977202
Bank Muamalat Jkt. 301.38256.20 - Bank BNI Jkt. 0005519566
a/n Insan LS Mokoginta
MENGAPA UMAT KRISTIANI TIDAK DIWAJIBKAN BERKHITAN / SUNAT ?
Berdebat masalah wajib tidaknya berkhitan (sunat) dalam ajaran agama Kristen, sebenarnya itu termasuk masalah yang sudah usang. Maksudnya bukan masalah baru yang masih harus dipersoalkan, sebab hal tersebut sudah sangat jelas dan gamblang dijelaskan dalam Alkitab (Bible), bahwa berkhitan (sunat) merupakan suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap laki-laki. Tapi kenyataannya jika masalah khitan ini dipertanyakan kepada umat Kristiani, jawaban yang didapat selalu kurang atau tidak memuaskan.
Asal mula perintah berkhitan (sunat) dalam kitab Kejadian pasal 17 ayat 9 – 14 sebagai berikut :
(9) Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. (10) Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (11) haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (12) Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. (13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. (14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."
Perintah Allah tersebut sangat jelas dan tegas. Bahkan sangsinya sangat berat bagi yang tidak berkhitan. Ini membuktikan bahwa bersunat hukumnya wajib sebab ancamannya hukuman mati. Tetapi hampir dalam setiap perdebatan, umumnya jawaban mereka sebagai berikut :
1. Khitan (sunat) itu ajaran di kitab Perjanjian Lama, bukan dalam kitab Perjanjian Baru
2. Khitan hanya berlaku bagi orang Yahudi saja.
3. Khitan itu kan sunat daging, yang penting sunat hati
4. Khitan itu demi untuk kesehatan dll.
Mari kita lihat dan bahas satu persatu dari jawaban mereka tersebut (menurut nomer urut)
1. Memang asal mula perintah Allah mewajibkan berkhitan, tertulis dalam kitab Perjanjian Lama. Tapi perintah Allah tersebut berlaku turun temurun (ayat 12) dan merupakan perjanjian yang kekal. Kekal artinya abadi atau seterusnya (ayat 13). Kenyataannya dalam kitab Perjanjian Baru, Allah tidak pernah membatalkan perintah tersebut. Dan Yesus pun tidak mungkin melarang bersunat, sebab dia sendiri saja bersunat tepat pada hari kedelapan sesuai perintah Tuhannya. ”Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Luk 2:21)
2. Kalau khitan hanya berlaku untuk orang Yahudi saja, berarti misi Yesus hanya untuk orang Yahudi juga. Jika demikian, mengapa mengikuti agama untuk orang Yahudi saja? Padahal orang diluar Yahudi juga wajib mengikuti hukum Musa. Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa." (Kis 15:5)
3. Umumnya dikatakan bahwa sunat daging sudah tidak berlaku lagi, sebab sudah diganti oleh Yesus dengan ”sunat hati”. Padahal sunat daging dan sunat hati adalah dua perintah yang berbeda, yang sama-sama tertulis dalam kitab yang sama pula, yaitu Taurat Musa. Sunat daging, yaitu pemotongan sebagian ujung kulup pria, yang dikerjakan dengan menggunakan benda tajam. Sedangkan sunat hati, adalah bahasa kiasan. Artinya membersihkan hati dari sombong, iri, dengki, takabur dll. ”Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.” (Ulangan 10:16). Dari bunyi ayat tersebut, jelas bahwa memang ada dua perintah sunat yang berbeda yang satu sama lainnya tidak saling mengganti.
4. Paling sering dikatakan bahwa mereka bersunat karena demi untuk kesehatan. Inipun keliru, sebab orang berkhitan (sunat), bukan karena demi kesehatan, tapi karena mengikuti perintah Allah. Adapun hikmahnya / manfaatnya yaitu demi untuk kesehatan.
Alasan umat Kristiani tidak wajibkan berkhitan.
Jawabannya sederhana saja yaitu karena Paulus melarang bersunat.
”Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.” (Gal 5:2)
”Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal 5:6)
”Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (1 Kor 7:18-19)
Sunat Menurut Injil Barnabas :
Yesus berfirman : “Manusia yang tidak menyunat tubuhnya akan Aku cerai beraikan dia dari kalangan keluargaKU untuk selama-lamanya” (Barnabas 23:15)
Kemudian Yesus berkata: “Tinggalkan ketakutan itu orang yang tidak mengerat kulupnya, karena dia diharamkan dari surga Firdaus” (Barnabas 23:17)
Yesus menjawab : “Sungguh kukatakan kepadamu bahwa anjing lebih mulia dari seorang yang tidak bersunat” ( Barnabas 22:2)
Dari ayat-ayat Alkitab, baik Perjanjian lama, maupun Perjanjian Baru dan juga Injil Barnabas, jelas menunjukkan bahwa khitan (sunat) merupakan kewajiban yang harus ditunaikan, karena ancamannya begitu berat. Alhamdulillah justru semua umat Islam yang berkhitan.
Kontak Pengasuh : 0815.8787.627 -- 021 709.84849
Email: insan@birrul-walidain.com & ddiidepok@yahoo.co.id
Dompet Antisipasi Pemurtadan & Peduli Umat
Bank Mandiri Jkt 129 0093042410 - Bank BCA Jkt 005 1977202
Bank Muamalat Jkt. 301.38256.20 - Bank BNI Jkt. 0005519566
a/n Insan LS Mokoginta
Asal mula perintah berkhitan (sunat) dalam kitab Kejadian pasal 17 ayat 9 – 14 sebagai berikut :
(9) Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. (10) Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (11) haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (12) Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. (13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. (14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."
Perintah Allah tersebut sangat jelas dan tegas. Bahkan sangsinya sangat berat bagi yang tidak berkhitan. Ini membuktikan bahwa bersunat hukumnya wajib sebab ancamannya hukuman mati. Tetapi hampir dalam setiap perdebatan, umumnya jawaban mereka sebagai berikut :
1. Khitan (sunat) itu ajaran di kitab Perjanjian Lama, bukan dalam kitab Perjanjian Baru
2. Khitan hanya berlaku bagi orang Yahudi saja.
3. Khitan itu kan sunat daging, yang penting sunat hati
4. Khitan itu demi untuk kesehatan dll.
Mari kita lihat dan bahas satu persatu dari jawaban mereka tersebut (menurut nomer urut)
1. Memang asal mula perintah Allah mewajibkan berkhitan, tertulis dalam kitab Perjanjian Lama. Tapi perintah Allah tersebut berlaku turun temurun (ayat 12) dan merupakan perjanjian yang kekal. Kekal artinya abadi atau seterusnya (ayat 13). Kenyataannya dalam kitab Perjanjian Baru, Allah tidak pernah membatalkan perintah tersebut. Dan Yesus pun tidak mungkin melarang bersunat, sebab dia sendiri saja bersunat tepat pada hari kedelapan sesuai perintah Tuhannya. ”Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Luk 2:21)
2. Kalau khitan hanya berlaku untuk orang Yahudi saja, berarti misi Yesus hanya untuk orang Yahudi juga. Jika demikian, mengapa mengikuti agama untuk orang Yahudi saja? Padahal orang diluar Yahudi juga wajib mengikuti hukum Musa. Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa." (Kis 15:5)
3. Umumnya dikatakan bahwa sunat daging sudah tidak berlaku lagi, sebab sudah diganti oleh Yesus dengan ”sunat hati”. Padahal sunat daging dan sunat hati adalah dua perintah yang berbeda, yang sama-sama tertulis dalam kitab yang sama pula, yaitu Taurat Musa. Sunat daging, yaitu pemotongan sebagian ujung kulup pria, yang dikerjakan dengan menggunakan benda tajam. Sedangkan sunat hati, adalah bahasa kiasan. Artinya membersihkan hati dari sombong, iri, dengki, takabur dll. ”Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.” (Ulangan 10:16). Dari bunyi ayat tersebut, jelas bahwa memang ada dua perintah sunat yang berbeda yang satu sama lainnya tidak saling mengganti.
4. Paling sering dikatakan bahwa mereka bersunat karena demi untuk kesehatan. Inipun keliru, sebab orang berkhitan (sunat), bukan karena demi kesehatan, tapi karena mengikuti perintah Allah. Adapun hikmahnya / manfaatnya yaitu demi untuk kesehatan.
Alasan umat Kristiani tidak wajibkan berkhitan.
Jawabannya sederhana saja yaitu karena Paulus melarang bersunat.
”Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.” (Gal 5:2)
”Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal 5:6)
”Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (1 Kor 7:18-19)
Sunat Menurut Injil Barnabas :
Yesus berfirman : “Manusia yang tidak menyunat tubuhnya akan Aku cerai beraikan dia dari kalangan keluargaKU untuk selama-lamanya” (Barnabas 23:15)
Kemudian Yesus berkata: “Tinggalkan ketakutan itu orang yang tidak mengerat kulupnya, karena dia diharamkan dari surga Firdaus” (Barnabas 23:17)
Yesus menjawab : “Sungguh kukatakan kepadamu bahwa anjing lebih mulia dari seorang yang tidak bersunat” ( Barnabas 22:2)
Dari ayat-ayat Alkitab, baik Perjanjian lama, maupun Perjanjian Baru dan juga Injil Barnabas, jelas menunjukkan bahwa khitan (sunat) merupakan kewajiban yang harus ditunaikan, karena ancamannya begitu berat. Alhamdulillah justru semua umat Islam yang berkhitan.
Kontak Pengasuh : 0815.8787.627 -- 021 709.84849
Email: insan@birrul-walidain.com & ddiidepok@yahoo.co.id
Dompet Antisipasi Pemurtadan & Peduli Umat
Bank Mandiri Jkt 129 0093042410 - Bank BCA Jkt 005 1977202
Bank Muamalat Jkt. 301.38256.20 - Bank BNI Jkt. 0005519566
a/n Insan LS Mokoginta
Jumat, 10 Juli 2009
SEKILAS TENTANG YAYASAN BIRRUL WALIDAIN
Yayasan “Birrul Walidain” bergerak khusus dalam bidang da`wah Islamiyah dengan menggunakan pendekatan metode ganda yaitu Islamologi dan Kristologi
Pendiri Yayasan Birrul Walidain Bpk. Insan LS Mokoginta adalah seorang mantan Kristen Katolik. Beliau telah menulis lebih 20 judul buku khusus untuk berda`wah kepada kalangan muslim maupun non muslim, juga 6 judul VCD perdebatan dengan Pendeta.
Yayasan Ini berpusat di Jakarta, didirikan pada tanggal 31 Maret 2003 dengan Akte Notaris Abdul Madjid SH, No – 92 - dan untuk sementara ini baru punya cabang di Sulawesi Utara mayoritas Kristen yang penuh tantangan dan resiko.
Semua hasil penjualan buku maupun VCD beliau serta kajian-kajian yang dilakukannya, beliau gunakan untuk kegiatan Yayasan dan untuk kepentingan da`wah di jalan Allah.
Yayasan Birrul Walidain juga sebagai konsultan dalam menangani berbagai masalah perbedaan agama. Bagi yang berminat dan merasa terpanggil untuk mengantisipasi gerakan Kristenisasi terhadap umat Islam, dapat menyalurkan sumbangannya berupa infaq, zakat maupun sadaqahnya melalui Bank Mandiri Jakarta no rekening :
129 0093042410
a/n Insan LS Mokoginta QQ Yayasan.
Atau Bank BCA Jakarta – Cimanggis no rekening :
005 1977202
a/n Insan LS Mokoginta
Partisipasi Anda merupakan kepedulian Anda dalam rangka mengantisipasi berbagai kasus pemurtadan terhadap umat Islam dan telah ikut membantu kami mengkader sebanyak mungkin calon-calon juru da`wah yang yang menguasai Islamologi dan Kristologi yang bisa berhadapan langsung dengan para Pendeta, Misionaris, Evangelis atau Penginjil kapanpun, siapapun dan dimanapun mereka berada.
Berapapun bantuan atau sumbangan Anda, insya Allah akan kami gunakan untuk kegiatan da`wah, baik terhadap muslim maupun non muslim, terutama untuk mencegah ummat Islam dari sasaran pemurtadan atau Kristenisasi.
Semoga Allah swt meridhoi segala usaha kita.
Yayasan Birrul Walidain
Pendiri Yayasan Birrul Walidain Bpk. Insan LS Mokoginta adalah seorang mantan Kristen Katolik. Beliau telah menulis lebih 20 judul buku khusus untuk berda`wah kepada kalangan muslim maupun non muslim, juga 6 judul VCD perdebatan dengan Pendeta.
Yayasan Ini berpusat di Jakarta, didirikan pada tanggal 31 Maret 2003 dengan Akte Notaris Abdul Madjid SH, No – 92 - dan untuk sementara ini baru punya cabang di Sulawesi Utara mayoritas Kristen yang penuh tantangan dan resiko.
Semua hasil penjualan buku maupun VCD beliau serta kajian-kajian yang dilakukannya, beliau gunakan untuk kegiatan Yayasan dan untuk kepentingan da`wah di jalan Allah.
Yayasan Birrul Walidain juga sebagai konsultan dalam menangani berbagai masalah perbedaan agama. Bagi yang berminat dan merasa terpanggil untuk mengantisipasi gerakan Kristenisasi terhadap umat Islam, dapat menyalurkan sumbangannya berupa infaq, zakat maupun sadaqahnya melalui Bank Mandiri Jakarta no rekening :
129 0093042410
a/n Insan LS Mokoginta QQ Yayasan.
Atau Bank BCA Jakarta – Cimanggis no rekening :
005 1977202
a/n Insan LS Mokoginta
Partisipasi Anda merupakan kepedulian Anda dalam rangka mengantisipasi berbagai kasus pemurtadan terhadap umat Islam dan telah ikut membantu kami mengkader sebanyak mungkin calon-calon juru da`wah yang yang menguasai Islamologi dan Kristologi yang bisa berhadapan langsung dengan para Pendeta, Misionaris, Evangelis atau Penginjil kapanpun, siapapun dan dimanapun mereka berada.
Berapapun bantuan atau sumbangan Anda, insya Allah akan kami gunakan untuk kegiatan da`wah, baik terhadap muslim maupun non muslim, terutama untuk mencegah ummat Islam dari sasaran pemurtadan atau Kristenisasi.
Semoga Allah swt meridhoi segala usaha kita.
Yayasan Birrul Walidain
Ust. Insan Mokoginta sudah siap kembali berdakwah
setelah berdakwah di dalam penjara di Kotamobagu - Sulawesi Utara, saat ini beliau sudah siap berdakwah dimana pun umat yang membutuhkan.
Langganan:
Postingan (Atom)